Ekonomi

Transaksi OVO Meningkat 77 Persen, Mayoritas Didominasi oleh Belanja Kecil

Jakarta, Maret.id — Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama untuk layanan pembayaran OVO. Menurut laporan terbaru, total transaksi OVO tumbuh sebesar 77 persen selama lima tahun terakhir, mencerminkan perubahan pola belanja masyarakat yang semakin beralih ke platform digital.

Pergeseran Pola Transaksi dari Daring ke Luring

Hasil survei yang disampaikan oleh Asep Haekal, Kepala Strategi dan Komunikasi Pemasaran Terintegrasi OVO, mengindikasikan bahwa pada tahun 2021, mayoritas transaksi OVO berasal dari merchant daring dengan porsi mencapai 68 persen. Namun, pada tahun 2025, angka tersebut berbalik, di mana 69 persen transaksi berasal dari merchant luring atau transaksi langsung di toko fisik.

Dominasi transaksi di merchant luring terdiri dari pembelian makanan dan minuman (F&B), yang mencapai 36,7 persen dari total transaksi pada Mei 2026. Hal ini menunjukkan bahwa belanja sehari-hari, terutama di sektor F&B, kini lebih umum dilakukan melalui platform pembayaran digital.

Transaksi Kecil Meningkat Pesat

Menariknya, transaksi di merchant luring sering kali merupakan pembelanjaan dengan nilai kecil, yang sering disebut sebagai transaksi “receh”. Asep Haekal menjelaskan bahwa banyak konsumen kini melakukan pembelian dengan nilai di bawah Rp25.000, seperti kopi, es krim, atau paket nasi ayam. Meskipun nilainya kecil, jika diakumulasi, pengeluaran tersebut bisa menjadi signifikan.

“Setiap hari, konsumen melakukan pembelian kecil yang mungkin tidak terlalu mereka sadari. Namun, jika kita menjumlahkan, total pengeluaran dapat menjadi besar,” ungkap Haekal. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbiasa berbelanja secara digital, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Pentingnya Literasi Finansial di Era Cashless

Dengan kemudahan yang ditawarkan oleh transaksi digital, Haekal mengingatkan masyarakat akan pentingnya literasi finansial. Ia menekankan bahwa meskipun kemudahan teknologi memfasilitasi proses transaksi, pengguna harus lebih sadar terhadap pola pengeluaran mereka.

“Memanfaatkan layanan digital dengan bijak sangat penting. Pengguna perlu memahami cara bertransaksi yang aman dan terencana agar tidak terjebak dalam pola pengeluaran berlebihan,” katanya. Sebagai penutup, Haekal mendorong masyarakat untuk lebih bijaksana dalam mengelola keuangan di era cashless ini, agar manfaat dari layanan digital dapat dirasakan secara maksimal.

Pertumbuhan OVO dan semakin banyaknya transaksi yang dilakukan di merchant luring menunjukkan potensi besar bagi perkembangan e-commerce di Indonesia. Hal ini juga menjadi indikasi bahwa masyarakat mulai beradaptasi dengan perubahan teknologi dalam mengelola keuangan sehari-hari.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button