Lebak Catat Surplus Beras 240 Ribu Ton, Menekan Harga Lokal dan Berpotensi Memengaruhi Kebijakan Cadangan Pangan

Jakarta, Maret.id — Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, semakin memperkuat perannya sebagai daerah penyangga pangan nasional melalui produksi beras yang signifikan setiap tahun. Produksi padi di Lebak tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga memasok wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek). Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan pola tanam dua kali setahun menjadi kunci peningkatan produksi padi di daerah itu. “Kami minta petani kembali melakukan percepatan tanam untuk keberlanjutan produksi pangan,” kata Rahmat Yuniar, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak. Pemerintah Kabupaten Lebak memberi apresiasi atas kerja keras petani sehingga wilayah ini masuk kategori lumbung pangan di Provinsi Banten. Menurut data Dinas Pertanian, produksi gabah kering pungut (GKP) Lebak pada 2025 tercatat 725.813 ton dan jika dikonversikan menjadi beras mencapai 380.000 ton. Kebutuhan konsumsi beras bagi sekitar 1,4 juta jiwa penduduk Kabupaten Lebak diperkirakan mencapai 140.000 ton per tahun. Dengan total produksi beras sekitar 380.000 ton, Lebak memiliki surplus sekitar 240.000 ton yang bisa disalurkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Sektor padi sawah tetap menjadi sumber pendapatan utama petani Lebak dibandingkan komoditas hortikultura dan palawija. “Kami terus mendorong produksi pangan di Lebak terus meningkat. Terbukti pada 2025 sebanyak 725.813 ton gabah kering pungut (GKP) dan jika dikonversikan beras mencapai 380.000 ton,” kata Rahmat Yuniar, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak. Surplus beras Kabupaten Lebak dipandang strategis untuk menopang pasokan pangan regional dan mengurangi tekanan pada distribusi di wilayah-wilayah padat seperti Jabotabek.





