Kelangkaan Minyak Dunia Teratasi, Harga Pertamax Diperkirakan Turun Juli 2026 seiring Stabilisasi Pasokan Menekan Inflasi dan Mendorong…

Jakarta, Maret.id — Ketegangan yang mereda antara Amerika Serikat dan Iran serta dibukanya kembali Selat Hormuz mendorong penurunan harga minyak dunia yang sebelumnya sempat mengalami kelangkaan.
Situasi ini dinilai berpotensi menekan harga bahan bakar nonsubsidi jenis Pertamax di Indonesia.
“Mestinya, awal Juli ini pertamax akan diturunkan harganya,” ujar Fahmy Radhi, pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada.
Saat ini harga minyak dunia berada di kisaran 80 dolar Amerika Serikat per barel, jauh lebih rendah setelah sempat melampaui 100 dolar AS per barel pada puncak ketegangan.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya memperburuk kelangkaan pasokan minyak global.
“Jadi, masih fluktuasi entah sampai kapan. Tetapi, khusus untuk Indonesia, kalau harga pertamax di atas harga pasar ketika dievaluasi, maka pemerintah harus menurunkannya,” ujar Fahmy Radhi, pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada.
Pada Selasa, 23 Juni 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa harga Pertamax berpotensi turun seiring pergerakan harga minyak dunia.
“Harga Pertamax berpotensi turun seiring pergerakan harga minyak dunia,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Terbukanya peluang perdamaian antara AS dan Iran memberikan harapan pemulihan bagi perekonomian global.
Jika perdamaian itu tercapai, stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan dapat membaik, biaya dana menjadi lebih kompetitif, dan investasi berpeluang menguat.





