Kereta Petani Merak

Jakarta, Maret.id — PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat telah mengangkut 17.867 penumpang melalui layanan Kereta Petani dan Pedagang pada periode awal Januari hingga pertengahan Mei 2026. Layanan rute Merak–Rangkasbitung ini memakai tarif subsidi sebesar Rp3.000 per perjalanan sebagai bagian dari skema Public Service Obligation (PSO) untuk mendukung distribusi hasil pertanian dan usaha ekonomi lokal.
Operasional dan fasilitas kereta
KAI mengoperasikan 14 perjalanan setiap hari untuk mempercepat alur distribusi hasil panen menuju pasar tradisional. Layanan ini mulai beroperasi sejak 1 Desember 2025 dan memiliki jadwal rutin. Setiap gerbong dirancang khusus dengan pintu masuk lebih lebar serta kursi yang disusun menyamping untuk mempermudah bongkar muat. Kapasitas setiap gerbong mencapai 73 penumpang dan tersedia ruang penyimpanan yang memadai untuk barang bawaan pedagang dan petani.
Pelanggan yang ingin memanfaatkan layanan ini diwajibkan mendaftarkan kartu khusus pelanggan dengan menggunakan identitas resmi di loket stasiun setempat.
Dampak terhadap petani, pedagang, dan distribusi pangan
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan bahwa subsidi ongkos sangat berarti bagi petani dan pedagang kecil. “Bagi petani dan pedagang kecil, selisih ongkos perjalanan sangat berarti. Saat biaya distribusi lebih ringan, mereka dapat membawa hasil panen lebih banyak, menjaga usaha tetap berjalan, dan mempertahankan penghasilan untuk keluarga,” kata Anne.
Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya menambahkan bahwa kelancaran distribusi memberi manfaat luas, mulai dari ketersediaan pasokan bagi pedagang hingga tersedianya bahan pangan segar bagi masyarakat. “Di setiap perjalanan kereta ini ada hasil panen yang dirawat dengan kerja keras selama berbulan-bulan. Saat perjalanan menjadi lebih ringan dan distribusi semakin lancar, masyarakat dapat merasakan manfaat yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari,” ujarnya.
KAI menyebut layanan Kereta Petani dan Pedagang merupakan upaya untuk mendukung rantai pasok lokal dan menurunkan beban biaya logistik bagi pelaku usaha mikro di wilayah lintasan Merak–Rangkasbitung.





