Dampak Ekonomi dari Kebiasaan Pengguna LRT Jabodebek

Jakarta, Maret.id — Setiap hari puluhan hingga ratusan ribu masyarakat memanfaatkan Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek untuk beraktivitas seperti bekerja, bersekolah, dan berwisata.
Keselamatan perjalanan tidak hanya bergantung pada sistem dan petugas, tetapi juga pada kebiasaan setiap pengguna selama berada di stasiun maupun di dalam kereta.
Masih terdapat kebiasaan yang kerap dianggap sepele seperti berdiri terlalu dekat tepi peron, menghalangi pintu saat proses naik turun, atau menggunakan fasilitas darurat tidak sesuai peruntukan.
Perilaku tersebut dapat memengaruhi keselamatan, kenyamanan, serta kelancaran perjalanan bersama.
Manajer Hubungan Masyarakat LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan transportasi publik yang aman dibangun melalui kolaborasi antara operator dan masyarakat.
“Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. Selain memastikan layanan berjalan sesuai standar operasional, kami juga mengajak seluruh pengguna untuk membangun budaya menggunakan transportasi publik secara tertib,” ujar Radhitya Mardika, Manajer Hubungan Masyarakat LRT Jabodebek.
LRT Jabodebek mengajak masyarakat menerapkan beberapa kebiasaan sederhana saat menggunakan layanan untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan.
Pertama, berdirilah di belakang garis kuning saat menunggu kereta karena garis tersebut berfungsi sebagai batas aman sebelum kereta berhenti sempurna.
Kedua, dahulukan penumpang yang turun sebelum naik ke dalam kereta untuk memperlancar arus perpindahan dan mengurangi kepadatan di pintu.
Ketiga, hindari menghalangi pintu kereta yang akan menutup karena pintu merupakan bagian dari sistem operasi yang mendukung ketepatan jadwal.
Keempat, lepaskan ransel dan bawa barang bawaan di depan tubuh saat kereta padat untuk memberi ruang gerak dan mengurangi risiko menyenggol penumpang lain.
Kelima, gunakan fasilitas darurat seperti Emergency Intercom hanya dalam kondisi yang benar-benar memerlukan penanganan segera agar petugas dapat merespons dengan cepat dan efektif.
Radhitya menekankan bahwa budaya keselamatan juga tercermin dari kepedulian terhadap pengguna lain dalam kegiatan sehari-hari di transportasi publik.
“Hal-hal sederhana seperti mengantre dengan tertib, memberikan ruang bagi penumpang yang turun, serta mengikuti arahan petugas merupakan bentuk kepedulian yang dapat menciptakan perjalanan yang lebih aman dan nyaman bagi semua,” ujar Radhitya Mardika, Manajer Hubungan Masyarakat LRT Jabodebek.
Pernyataan itu disampaikan Rabu (15/7/2026) di Jakarta.
LRT Jabodebek mengimbau pengguna untuk segera menyampaikan informasi kepada Train Attendant atau petugas di stasiun apabila menemukan kondisi yang berpotensi mengganggu keselamatan maupun kenyamanan perjalanan.
Partisipasi aktif masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan layanan transportasi publik yang aman, tertib, dan andal bagi seluruh pengguna.





