Ekonomi

Dampak Ekonomi Piala Dunia 2026 di Indonesia Rp5,03 T

Jakarta, Maret.id — Piala Dunia FIFA 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada memberikan perputaran ekonomi langsung dan tidak langsung sebesar Rp5,03 triliun di Indonesia. Meskipun Indonesia tidak berlaga, dampak gelaran tersebut dirasakan luas melalui aktivitas siaran (on air) dan kegiatan masyarakat (off air).

Perhitungan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencakup aktivitas sejak masa persiapan hingga pelaksanaan, termasuk penyiaran, belanja iklan, sponsorship, promosi produk, serta peningkatan penjualan perangkat elektronik dan merchandise. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo, menjelaskan rincian tersebut.

Perhitungan juga memasukkan transaksi sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), kegiatan nonton bareng, serta penjualan UMKM melalui beragam ajang termasuk Festival Rakyat 2026. Hal ini menunjukkan manfaat ekonomi Piala Dunia tersebar ke berbagai sektor usaha dan aktivitas masyarakat di seluruh negeri.

“Piala Dunia 2026 menjadi contoh bagaimana sebuah ajang olahraga internasional mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lintas sektor,” kata Kukrit Suryo, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah. Kukrit menyampaikan pernyataan tersebut dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Kukrit menambahkan bahwa manfaat tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar dan pemilik merek nasional tetapi juga membuka peluang bagi hotel, restoran, kafe, pedagang makanan, pelaku industri kreatif, penyedia jasa, serta UMKM di berbagai daerah. Menurutnya, skala dan jangkauan kegiatan membuat efek ekonomi meluas ke level komunitas dan usaha kecil.

Ia menyatakan keberhasilan ini menunjukkan manfaat luas bila didukung kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga penyiaran publik, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut, kata Kukrit, menjadi kunci agar efek ekonomi yang timbul bersifat berkelanjutan.

Berdasarkan perhitungan Kadin Indonesia, nilai ekonomi itu terdiri dari sekitar Rp1,76 triliun dari aktivitas promosi produk melalui iklan on air, Rp850 miliar dari kegiatan komersial off air, serta sekitar Rp2,4 triliun dari sektor Horeka. Selain itu terdapat kontribusi ekonomi dari beragam kegiatan termasuk Festival Rakyat 2026.

Selain perputaran ekonomi langsung sebesar Rp5,03 triliun, Kadin menilai Piala Dunia 2026 berpotensi menciptakan efek pengganda lanjutan melalui peningkatan konsumsi dan investasi pelaku usaha pada perangkat televisi, proyektor, set-top box, sistem audio, kapasitas tempat duduk, serta fasilitas layanan makanan dan minuman. Investasi tersebut dinilai dapat memperpanjang dampak ekonomi pasca-turnamen.

Dampak ini sejalan dengan pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman yang tercatat tumbuh 13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026. Pertumbuhan tersebut menempatkan sektor ini sebagai salah satu yang paling tinggi pada periode tersebut.

Survei Lokadata yang dilaksanakan selama 7-13 Juli 2026 menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat yang turut mendukung dampak ekonomi penyiaran Piala Dunia. Partisipasi publik dalam kegiatan nonton bareng menjadi salah satu penopang utama perputaran ekonomi di tingkat lokal.

Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad, mengatakan 78,1 persen responden mengikuti kegiatan nonton bareng setidaknya satu kali selama turnamen dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp51 ribu per kegiatan. Rata-rata pengeluaran per orang selama turnamen diperkirakan mencapai sekitar Rp145 ribu.

“Sebagian besar pengeluaran itu digunakan untuk membeli makanan dan minuman, paket data, serta berbagai kebutuhan pendukung lainnya, sehingga manfaat ekonominya banyak dirasakan oleh pelaku UMKM,” ujar Suwandi Ahmad, Chief Data Officer Lokadata. Data ini menegaskan peran acara bersama sebagai kanal distribusi ekonomi bagi pelaku usaha mikro.

Di sisi perdagangan, barang-barang merchandise seperti replika jersey timnas peserta Piala Dunia 2026 menjadi komoditas yang laris di pasar-pasar seperti Pasar Tanah Abang, Jakarta, tercatat pada 10 April 2026. Pergerakan penjualan merchandise ini turut menjadi contoh bagaimana acara internasional mendorong aktivitas perdagangan domestik.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button