Ekonomi

Daya Tarik Investasi Indonesia Terjaga, Dukung Pertumbuhan

Jakarta, Maret.id — Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan realisasi investasi pada semester I 2026 menunjukkan daya tarik investasi Indonesia masih cukup terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi pada periode tersebut telah mencapai Rp1.010,6 triliun atau sekitar 49,5 persen dari target tahun ini.

“Namun, tantangan pada semester II bukan lagi menarik komitmen investasi. Namun memastikan investasi tersebut segera direalisasikan menjadi proyek yang produktif,” kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat eksekusi proyek melalui penyederhanaan perizinan, kepastian regulasi, percepatan pembangunan infrastruktur, juga penyelesaian berbagai hambatan di lapangan.

“Berarti, investasi tidak hanya tinggi secara nominal. Namun juga mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kapasitas produksi nasional,” kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Rizal mengatakan iklim investasi Indonesia masih memiliki ketahanan yang relatif baik karena ditopang oleh besarnya pasar domestik dan agenda hilirisasi.

Stabilitas ekonomi makro juga tetap terjaga, menurut pengamat tersebut.

Namun, investor pada semester II diperkirakan akan lebih selektif seiring tingginya ketidakpastian global, tensi geopolitik, dan biaya pendanaan yang masih tinggi.

Kondisi tersebut membuat investasi cenderung mengalir ke sektor-sektor yang menawarkan kepastian keuntungan dan nilai tambah tinggi, seperti hilirisasi mineral, manufaktur, ekonomi digital, pusat data, energi, juga logistik.

“Dengan demikian, konsistensi kebijakan menjadi faktor kunci agar Indonesia tetap kompetitif dibandingkan negara tujuan investasi lainnya di kawasan,” kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Percepatan realisasi investasi dinilai krusial untuk mendorong pertumbuhan, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kapasitas produksi nasional di tengah persaingan regional yang semakin ketat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button