Ekonomi

Lonjakan Harga Minyak Dunia Picu Risiko Twin Deficit

Jakarta, Maret.id — Nilai tukar rupiah pada Jumat (24/7/2026) bergerak melemah 43 poin atau 0,24% menjadi Rp17.979 per dolar Amerika Serikat dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.936 per dolar AS.

Lonjakan harga minyak dunia memunculkan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit (defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan secara bersamaan) Indonesia yang pada akhirnya melemahkan sentimen investor terhadap mata uang domestik.

“Harga minyak mentah Brent juga sempat menembus 95 dolar AS per barel, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.

Kenaikan harga minyak dunia diduga merupakan dampak dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas setelah serangan di dekat Selat Bab el-Mandeb.

Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Gangguan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran bahwa kapal tanker minyak harus mengalihkan rute pelayaran melalui Afrika bagian selatan, yang berpotensi semakin mengganggu arus perdagangan global dan rantai pasok energi.

Peningkatan ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global sehingga mendorong permintaan terhadap dolar AS dan menambah tekanan pada rupiah.

Kapal tanker Pertamina, Pertamina Pride, melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari aktivitas pelayaran minyak di tengah kondisi pasar energi yang bergejolak.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button