BRIN: Kemenyan Potensial Jadi Bahan Parfum Dorong Ekspor

Jakarta, Maret.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya menghapus persepsi mistis yang melekat pada kemenyan dengan mengekstraksi getah tanaman endemik itu menjadi minyak asiri berkualitas tinggi.
Minyak asiri kemenyan itu dikembangkan untuk menjadi bahan baku parfum premium kelas dunia.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Aswandi, mengatakan minyak asiri kemenyan memiliki karakter aroma tipe amber yang tegas, elegan, dan jauh dari kesan menyeramkan.
“Bahkan seandainya kalau kita datang ke hutan kemenyan sendiri, tidak ada aroma yang menakutkan itu. Tidak ada,” ujar Aswandi, Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN.
Ia menjelaskan aroma yang dihasilkan dari proses ekstraksi minyak kemenyan sangat berbeda dengan aroma kemenyan mentah yang dibakar untuk keperluan ritual.
Untuk menciptakan parfum yang memikat, BRIN memformulasikan minyak kemenyan murni sebagai base note yang dicampur dengan minyak asiri khas Nusantara lainnya.
Campuran tersebut meliputi minyak nilam (patchouli), minyak bunga kenanga, melati, hingga ekstrak jeruk sehingga membentuk lapisan aroma yang mewah dan menyegarkan.
Aswandi menuturkan kandungan fitokimia dalam kemenyan Indonesia memiliki keunikan yang tidak ditemukan pada spesies kemenyan di negara lain.
Senyawa seperti cinnamein, benzyl benzoate, dan vanillin yang melimpah disebut memberikan potensi besar bagi kemenyan Indonesia untuk menembus pasar global.
Saat ini Indonesia masih banyak mengekspor resin kemenyan dalam bentuk bahan mentah ke sekitar 60 negara dengan volume mencapai 5.000–6.000 ton per tahun.
Ironisnya, pasar dalam negeri kemudian mengimpor kembali produk parfum dan kosmetik bernilai tinggi dari luar negeri yang juga menggunakan kemenyan asal Tanah Air sebagai bahan bakunya.
Untuk itu BRIN membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah agar memanfaatkan paten serta teknologi purifikasi kemenyan.
Langkah pemberdayaan nilai tambah di hilir ini dinilai krusial untuk menekan dominasi produk parfum sintetis impor dan meningkatkan nilai ekonomi bagi produsen lokal.





