Ekonomi

Pemerintah Dorong PLTA Batang Toru Perkuat Listrik Sumatera

Jakarta, Maret.id — Pemerintah mempercepat pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan di Sumatera setelah bencana hidrologi pada November 2025 merobohkan lima menara transmisi di wilayah tersebut.

Percepatan pengoperasian PLTA Batang Toru menjadi fokus kunjungan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot ke proyek strategis nasional di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada Kamis (30/7/2026).

“Ini merupakan upaya percepatan kita untuk penyediaan dan keandalan energi secara nasional,” ujar Yuliot, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Khususnya, kondisi energi di wilayah Sumatera cukup kritis sehingga kita memerlukan antisipasi,” ujar Yuliot, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Dengan keterbatasan ketersediaan energi primer yang lain, kita sudah memiliki PLTA Batang Toru yang bisa on-grid,” ujar Yuliot, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Pemerintah juga mempercepat pembangunan kembali jalur transmisi yang terdampak untuk memastikan listrik dari PLTA dapat disalurkan ke jaringan Sumatera secara optimal.

“Pembangunan kembali jalur transmisi ini dilakukan secara terakselerasi agar energi listrik dari PLTA Batang Toru dapat disalurkan dengan optimal ke dalam jaringan transmisi Sumatera,” ujar Yuliot, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sebelumnya proyek senilai Rp21,6 triliun tersebut sempat terkendala perizinan dan administrasi sebelum Menteri Lingkungan Hidup mencabut sanksi administratif melalui Keputusan Nomor 1444 Tahun 2026 pada 16 Maret 2026.

“Testing yang dilakukan ini namanya PLTA kan harus ada genangan,” ujar Yuliot, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Kalau tidak ada genangan, testing tidak bisa kita lakukan,” ujar Yuliot, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Berarti antara penyelesaian administratif dan juga pelaksanaan testing itu kita lakukan secara paralel,” ujar Yuliot, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Pengoperasian PLTA Batang Toru juga diharapkan mendukung target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional yang saat ini berada di kisaran 16 hingga 17 persen dan ditargetkan meningkat menjadi 21 persen pada akhir 2026.

“Jika kita tidak melakukan percepatan-percepatan, maka target bauran energi 21 persen tidak akan tercapai hingga akhir tahun,” ujar Yuliot, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

PLTA Batang Toru dibangun di atas lahan seluas 650 hektare oleh PT North Sumatera Hydro Energy dengan Sinohydro Corporation Limited sebagai kontraktor, dimulai pada 1 September 2017 dan bernilai investasi Rp21,6 triliun yang berasal dari penanaman modal asing.

Percepatan operasional dan pemulihan transmisi diharapkan segera meningkatkan keandalan pasokan listrik di Sumatera dan mereduksi gangguan yang berdampak pada sektor ekonomi dan masyarakat setempat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button