Ekonomi

Kemendag Mengatakan SRC Berhasil Meningkatkan Kelas Toko Kelontong

Jakarta, Maret.id — Kementerian Perdagangan mengungkapkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian nasional, dengan kontribusi mencapai 54,36 persen. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, dalam acara peringatan HUT PT SRC di Jakarta pada 21 Mei 2026.

Peran Sektor Retail dalam Ekonomi

Iqbal menjelaskan bahwa sektor ritel, baik yang modern maupun tradisional, memiliki peranan signifikan dalam menjaga perputaran ekonomi masyarakat. Ia menyatakan, “54,36 persen dari konsumsi nasional diambil dari sektor ini, yang mencakup berbagai kategori mulai dari retail modern hingga toko kelontong.”

Selama 18 tahun terakhir, program pembinaan yang dijalankan oleh SRC diklaim telah berhasil mendorong pengembangan toko kelontong tradisional. Menurut Iqbal, SRC tidak hanya berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan (accelerate) usaha, tetapi juga untuk meningkatkan skala (scale-up) usaha mereka.

Program Pendampingan untuk Toko Kelontong

SRC memberikan berbagai program pendampingan yang meliputi penataan toko, pengelolaan manajemen keuangan, hingga bantuan dalam distribusi barang. Dengan cara tersebut, pelaku usaha diharapkan dapat memperoleh harga barang yang lebih kompetitif, yang pada gilirannya dapat meningkatkan margin keuntungan.

Lebih dari 40 persen toko kelontong binaan SRC kini telah memperluas lini usaha mereka, termasuk membuka warung makan dan menawarkan layanan seperti penjualan token listrik dan pulsa. Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS), Romulus Sutanto, menekankan bahwa program pendampingan UMKM yang dilakukan SRC terus memberikan dampak positif terhadap pelaku usaha.

Peningkatan Omzet bagi Toko yang Bergabung dengan SRC

Manajemen SRC merujuk pada sebuah riset oleh Kompas Gramedia yang menunjukkan bahwa toko yang bergabung dengan SRC mengalami kenaikan omzet hingga 42 persen pada 2023. “Pertumbuhan ini terus berlanjut meski terjadi dinamika di sektor ekonomi nasional,” ungkap Romulus.

Ia juga melaporkan bahwa omzet toko SRC meningkat sebesar 27,5 persen dalam tiga tahun terakhir. Salah satu keberhasilan SRC juga terletak pada program “Pojok Lokal”, yang memungkinkan produk UMKM dipasarkan di jaringan toko SRC. Program ini mencatat omzet yang melonjak hingga 128 persen, dari Rp5,65 triliun pada 2023 menjadi Rp12,9 triliun pada 2026.

SRC berkomitmen memperkuat ekosistem UMKM melalui kemitraan strategis dengan berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan mitra usaha lainnya seperti BRI, Pos Indonesia, Telkomsel, Pertamina Patra Niaga, dan Bulog. Secara keseluruhan, SRC mengklaim bahwa ekosistem usaha yang dibangunnya telah berkontribusi sebesar Rp251 triliun per tahun, setara dengan 9,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) ritel nasional pada 2025.

Dengan berbagai program dan upaya strategis, SRC berperan aktif dalam mendorong pengembangan toko kelontong serta memajukan sektor ritel di Indonesia. Kementerian Perdagangan pun optimis bahwa kolaborasi ini dapat menciptakan dampak positif yang lebih luas di masyarakat.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button