Prabowo Tegaskan Bangun Proyek Udang Kebumen, Dongkrak Ekspor dan Serap Tenaga Kerja!

Jakarta, Maret.id — Presiden Prabowo Subianto meninjau panen raya udang serta proses sortir hasil produksi di kawasan Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen. Kegiatan berlangsung di area tambak seluas 100 hektare yang dikembangkan sebagai percontohan budi daya modern berbasis teknologi dan tata kelola lingkungan terpadu.
Inspeksi Sistem Produksi Terintegrasi
Di lokasi tersebut Presiden meninjau sistem pengelolaan terintegrasi yang mencakup saluran air masuk, kolam tandon, pemisahan inlet–outlet, kolam produksi, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan fasilitas pendukung lainnya. Pemeriksaan ini menegaskan fokus pada penerapan teknologi serta standar tata kelola lingkungan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha perudangan.
Prabowo menyatakan bahwa panen kali ini merupakan panen raya ke-8 yang menunjukkan potensi besar sektor perudangan nasional. Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan di Kebumen pada Sabtu (23/5/2026).
Produktivitas dan Nilai Ekonomi
Menurut laporan yang diterima Presiden, satu hektare tambak di lokasi percontohan dapat menghasilkan 40 ton udang. Prabowo menambahkan bahwa harga komoditas pada saat itu tercatat Rp70 ribu per kilogram sehingga berimplikasi nilai per ton Rp70 juta.
BUBK Kebumen memiliki 206 petak kolam dengan nilai produksi sekitar Rp67,2 miliar per siklus atau berpotensi mencapai Rp134,4 miliar per tahun. Nilai tersebut menggambarkan skala ekonomi yang bisa dicapai apabila praktik budi daya modern diterapkan secara konsisten dan terukur.
Penyerapan Tenaga Kerja dan Dampak Sosial
Tambak modern ini juga menyerap ratusan tenaga kerja lokal dan saat kunjungan disebutkan ada 650 orang setempat yang bekerja di kawasan tersebut. Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kontribusi proyek terhadap kesejahteraan masyarakat lokal.
Presiden menekankan bahwa pengembangan budi daya modern akan menjadi model transformasi dari praktik tradisional menuju sistem yang lebih produktif dan ramah lingkungan. Perubahan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi tetapi juga mengangkat pendapatan dan kapasitas keterampilan pekerja setempat.
Skala Proyek dan Replikasi
Pemerintah juga sudah menjalankan proyek serupa dengan skala lebih besar di Waingapu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang disebutkan mencapai 2 ribu hektare. Skala tersebut dipandang sebagai contoh bagaimana program budi daya udang dapat diimplementasikan pada wilayah yang lebih luas untuk mencapai ekonomi skala dan potensi ekspor.
Prabowo menegaskan bahwa pembangunan budi daya modern, produktivitas tinggi, penyerapan tenaga kerja, dan orientasi ekspor menjadi fondasi untuk mendorong udang sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. Pernyataan ini menggarisbawahi prioritas kebijakan yang mengutamakan komoditas produktif dibandingkan peningkatan infrastruktur birokrasi semata.
Arah Kebijakan dan Prioritas Investasi
Dalam pernyataannya Presiden menegaskan arah kebijakan pemerintah untuk mempercepat pembangunan sektor-sektor produktif yang dapat memperkuat ketahanan pangan, memacu ekspor, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah menempatkan proyek-proyek yang menghasilkan protein dan nilai tambah sebagai prioritas untuk mendukung devisa negara.
Prabowo menyinggung pilihan alokasi sumber daya, yang menurutnya lebih efektif diarahkan pada proyek produktif ketimbang pembangunan kantor megah tanpa produk. Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan kebijakan yang berorientasi pada hasil ekonomi nyata dan penciptaan lapangan kerja.
Pemerintah memandang komoditas udang sebagai salah satu mesin ekonomi strategis yang berpotensi memperkuat daya saing Indonesia di pasar global bila dikelola dengan standar good aquaculture practices. Dukungan terhadap standar manajemen dan sertifikasi dinilai penting untuk membuka akses pasar ekspor yang lebih luas.
Kunjungan ini sekaligus menegaskan konsistensi pemerintah dalam membangun sektor kelautan dan perikanan, termasuk menilik kawasan yang sama pada periode sebelum Presiden menjabat. Pendekatan berkesinambungan tersebut diharapkan mendorong peningkatan investasi, adopsi teknologi, dan keberlanjutan lingkungan dalam jangka menengah hingga panjang.
Pernyataan dan angka-angka yang disampaikan selama kunjungan menjadi bahan acuan bagi pemangku kepentingan untuk merancang kebijakan, insentif, dan program pelatihan yang mendukung perluasan model BUBK. Implementasi yang terukur akan menentukan seberapa cepat komoditas udang dapat berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik dan penerimaan devisa.





