Konsumsi minyak dunia menurun tekan harga minyak dan saham energi global!

Jakarta, Maret.id — Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa konsumsi minyak dunia mulai menunjukkan penurunan di tengah krisis yang melanda kawasan Timur Tengah.
Penurunan Permintaan dan Risiko Kenaikan Harga
Birol mengatakan kepada peserta di acara yang diselenggarakan oleh Chatham House bahwa permintaan minyak global sudah mulai menurun dan akan semakin jelas bila harga melonjak lebih tinggi lagi. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap sensitivitas permintaan terhadap gejolak harga di tengah ketidakpastian pasokan.
Ancaman Musim Liburan dan Transportasi
Menurut Birol, situasi pasar dapat memburuk pada musim panas mendatang apabila Selat Hormuz tidak kembali dibuka, karena pada akhir Juni hingga awal Juli biasanya terjadi lonjakan konsumsi akibat musim liburan. Ia memperingatkan bahwa lonjakan permintaan tersebut dapat menipiskan stok ketika tidak ada pasokan baru yang keluar dari kawasan Teluk Persia sehingga pasar berisiko memasuki “Zona Merah”.
Skala Gangguan Pasokan
IEA memperkirakan pasar telah kehilangan pasokan sekitar 14 juta barel minyak per hari, angka yang menurut Birol lebih besar dibandingkan dengan gangguan pada guncangan minyak pada tahun 1970-an yang mencapai 10 juta barel. Selain itu, hilangnya pasokan gas disebutkan telah melampaui 130 miliar meter kubik, menandai tekanan luas pada sisi pasokan energi global.
Kapasitas Cadangan dan Respons Negara
Pasar memasuki krisis saat ini dengan kondisi surplus minyak dan cadangan yang relatif tinggi sehingga pada awalnya mampu meredam dampak guncangan, namun Birol mencatat bantalan tersebut perlahan mulai terkuras. Negara-negara anggota IEA disebut telah melepaskan cadangan darurat ke pasar dan beberapa negara juga mengambil langkah pengurangan konsumsi, namun upaya ini dinilai belum cukup untuk menutup celah pasokan.
Solusi yang Ditekankan IEA
Fatih Birol menegaskan bahwa satu-satunya solusi paling penting untuk meredakan tekanan pasar adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat. Pernyataan ini menekankan peran krusial jalur laut tersebut sebagai arteri utama pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dari Teluk Persia ke pasar global.
Dinamika Politik dan Dampaknya pada Pasokan
Peristiwa militer di kawasan turut mempengaruhi aliran energi; pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel diketahui meluncurkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu, namun perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan sehingga penghentian permusuhan diperpanjang untuk memberi waktu bagi Iran menyusun “proposal terpadu.”
Blokade dan Dampak Ekonomi Global
Eskalasi di sekitar Iran telah memicu blokade de facto di Selat Hormuz sehingga mengganggu jalur utama ekspor minyak dan LNG dari Teluk Persia ke pasar internasional. Akibat blokade tersebut, produksi dan ekspor minyak terpengaruh langsung dan sebagian besar negara menghadapi kenaikan harga bahan bakar serta produk industri terkait.
Perkembangan ini menempatkan pelaku pasar, perencana kebijakan, dan perusahaan energi dalam kondisi kewaspadaan tinggi, mengingat potensi tekanan inflasi dan risiko suplai yang dapat berdampak pada aktivitas ekonomi. Para pemangku kepentingan industri kini mengamati dengan seksama setiap perkembangan terkait pembukaan kembali rute pelayaran dan kebijakan pelepasan cadangan untuk menilai prospek pasokan dan stabilitas harga ke depan.





