Stasiun Terpadat LRT Jabodebek Serap Lonjakan Penumpang Menuju Jakarta, Tekan Kapasitas!

Jakarta, Maret.id — Mobilitas masyarakat pengguna Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek pada hari kerja (weekday) masih didominasi oleh perjalanan menuju kawasan pusat bisnis dan perkantoran di Jakarta pada jam pagi, dan data operasional memperlihatkan pola puncak yang konsisten. Berdasarkan pengamatan dan penghitungan, rata-rata per hari pengguna LRT Jabodebek selama periode Januari hingga April 2026 menunjukkan kepadatan tertinggi pada rentang pukul 06.00–09.00 WIB.
Distribusi Pengguna Berdasarkan Stasiun Keberangkatan
Pada periode tersebut, Stasiun Harjamukti tercatat sebagai stasiun keberangkatan dengan jumlah pengguna tertinggi saat jam berangkat kerja, yakni mencapai rata-rata 6.224 pengguna /hari. Posisi berikutnya adalah Stasiun Cikoko dengan 3.432 pengguna, Stasiun Cikunir 1 dengan 3.274 pengguna, Stasiun Jatimulya dengan 2.786 pengguna /hari, serta Stasiun Jatibening Baru dengan 2.638 pengguna /hari.
Tujuan Utama ke Pusat Aktivitas Jakarta
Dari pola asal perjalanan tersebut, mayoritas tujuan akhir berada di kawasan pusat aktivitas dan perkantoran di Jakarta sehingga beban perjalanan terpusat pada sejumlah stasiun tertentu. Stasiun Kuningan menjadi tujuan dengan jumlah pengguna tertinggi mencapai 8.976 pengguna /hari, disusul Stasiun Pancoran sebanyak 7.166 pengguna /hari, Stasiun Dukuh Atas sebanyak 6.587 pengguna /hari, Stasiun Rasuna Said sebanyak 4.611 pengguna /hari, serta Stasiun Setiabudi sebanyak 4.532 pengguna /hari.
Komentar Manajemen dan Persepsi Pengguna
Manager of Public Relation LRT Jabodebek Radhitya Mardika menyatakan mayoritas pengguna melakukan perjalanan pada rentang pukul 06.00–07.30 WIB yang didominasi pekerja dan masyarakat yang beraktivitas di Jakarta. “Jumlah pengguna tersebut menunjukkan LRT Jabodebek menjadi pilihan masyarakat untuk mendukung mobilitas harian yang lebih praktis, nyaman, dan terintegrasi menuju pusat aktivitas di Jakarta,” ujar Radhitya.
Operasional Harian dan Penyesuaian Frekuensi
Untuk mendukung mobilitas pengguna pada jam sibuk pagi hari, LRT Jabodebek mengoperasikan perjalanan secara optimal dengan frekuensi yang tetap terjaga demi menjaga kontinuitas layanan. Pada hari kerja (weekday) KAI mengoperasikan 430 perjalanan LRT Jabodebek setiap hari, dengan headway menyesuaikan jam sibuk (peak hour) di hari kerja.
Pada relasi Jatimulya – Dukuh Atas, keberangkatan pertama dimulai pukul 05.12 WIB dan hingga pukul 09.00 WIB tersedia 28 perjalanan dengan headway sekitar 8–9 menit. Sementara pada relasi Harjamukti – Dukuh Atas, keberangkatan pertama dimulai pukul 05.18 WIB dengan total 27 perjalanan hingga pukul 09.00 WIB dan headway sekitar 8–9 menit.
Strategi Pengelolaan Kepadatan
“Untuk menghindari kepadatan pada jam sibuk pagi, masyarakat dapat menyesuaikan waktu keberangkatan agar perjalanan tetap nyaman, khususnya pada rentang waktu dengan mobilitas tertinggi,” tambah Radhitya untuk mengingatkan pengguna agar mempertimbangkan fleksibilitas waktu. Saran ini diposisikan sebagai bagian dari strategi operasional yang berpadu antara pengaturan layanan dan perilaku pengguna sehingga distribusi beban perjalanan dapat sedikit merata di luar jam puncak.
Tingginya mobilitas pada pagi hari menjadi indikasi bahwa peran LRT Jabodebek sebagai moda penghubung kawasan penyangga dengan pusat aktivitas di Jakarta terus meningkat, sehingga semakin penting bagi operator dan pembuat kebijakan untuk mengantisipasi tekanan kapasitas. KAI menyatakan akan terus melakukan evaluasi berkelanjutan untuk menghadirkan layanan LRT Jabodebek yang selamat, aman, dan nyaman dalam mendukung mobilitas masyarakat perkotaan secara berkelanjutan.
Konsentrasi perjalanan pada jam pagi menunjukkan kebutuhan perencanaan kapasitas yang lebih matang dan investasi dalam integrasi antarmoda guna mengurangi eksternalitas negatif seperti kemacetan di feeder dan kepadatan stasiun. Dari sisi bisnis, stabilitas frekuensi layanan dan prediktabilitas waktu tempuh meningkatkan nilai ekonomi bagi pengguna serta mendorong potensi peningkatan permintaan jika didukung kebijakan tarif, integrasi tiket, dan konektivitas angkutan penunjang.
Koordinasi antara KAI, pemerintah daerah, dan pihak swasta pengelola kawasan bisnis menjadi kunci untuk optimasi pemanfaatan infrastruktur LRT Jabodebek, termasuk opsi jam kerja fleksibel dan penguatan layanan last-mile. Pemanfaatan data kepadatan per stasiun dan relasi perjalanan harus menjadi instrumen utama dalam perencanaan layanan dan pengambilan kebijakan agar penyesuaian operasional dapat dilakukan secara responsif dan berbasis bukti.





