Politik

Status Yayasan MBG Tak Menjamin Integritas Lembaga Secara Otomatis!

Jakarta, Maret.id — Ketua Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Rizal Algamar menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan yayasan-yayasan di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu, 7 Juni 2026, dan mengajak publik untuk lebih kritis dalam menilai kegiatan yayasan.

Seruan untuk Kritis terhadap Yayasan

Menurut Rizal, masyarakat perlu memperhatikan siapa yang mengelola yayasan serta bagaimana mekanisme akuntabilitasnya. “Publik perlu semakin kritis dalam melihat siapa pengurus yayasan, bagaimana laporan kegiatan dan keuangannya terbuka, serta sejauh mana lembaga tersebut benar-benar bekerja untuk kepentingan penerima manfaat,” ujarnya.

Rizal juga menambahkan bahwa bagi para pegiat filantropi, momen ini merupakan panggilan untuk memperkuat tata kelola organisasi. “Yayasan yang memiliki akses mengelola SPPG atau program publik lain wajib menempatkan integritas, sistem kontrol, dan kepatuhan etika sebagai prioritas utama,” jelasnya.

Risiko Penyalahgunaan dalam Filantropi

Dia menjelaskan bahwa ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari kasus-kasus yang terjadi di sektor filantropi. Rizal mengingatkan bahwa sektor ini bukanlah zona yang kebal dari penyalahgunaan kekuasaan. “Justru karena mengelola dana sosial, yayasan harus tunduk pada standar etik dan tata kelola yang lebih tinggi,” tambahnya.

Rizal menegaskan perlunya pemisahan antara kepentingan sosial dan politik. Setiap yayasan yang terlibat dalam program-program strategis negara perlu memastikan ada pembatasan antara mandat pelayanan publik dan kepentingan pribadi. “Prinsip ini harus dijaga secara konsisten oleh semua pihak,” tegas Rizal.

Menguatkan Budaya Etika dan Transparansi

PFI mengajak semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam memperkuat budaya etika, tata kelola, transparansi, dan pengawasan independen. Rizal berpendapat bahwa hal ini sangat penting guna menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi filantropi. Tanpa upaya tersebut, kepercayaan publik dapat runtuh, berdampak negatif tidak hanya pada yayasan, tetapi juga pada angka bantuan sosial yang lebih luas.

Sebagai penutup, Rizal mengatakan, “Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa sektor filantropi dapat berfungsi dengan baik untuk masyarakat yang membutuhkan.” Dengan demikian, PFI berkomitmen untuk mendukung pengelolaan yayasan yang berintegritas dan transparan, demi kesejahteraan bersama.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button