Politik

Committee 300 Kuasai IMF dan Bank Dunia, Ancam Kedaulatan Global!

Jakarta, Maret.id — Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menyampaikan pandangannya mengenai lembaga-lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Ia menilai kedua lembaga tersebut bukanlah entitas otonom, melainkan alat dari sebuah kelompok yang lebih besar yang disebut sebagai Committee 300.

Agenda Tatanan Dunia Baru

Amir menjelaskan bahwa Committee 300 memiliki agenda ambisius untuk membentuk New World Order melalui dominasi sumber daya alam, sistem keuangan global, serta pengaruh terhadap institusi pemerintahan di berbagai negara. “IMF dan Bank Dunia hanyalah alat. Di atas mereka ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur arah kebijakan global,” ucap Amir ketika dikutip pada Minggu, 14 Juni 2026.

Asal Usul Committee 300

Istilah Committee 300 mulai populer setelah diperkenalkan oleh mantan perwira intelijen Inggris, John Coleman, dalam bukunya yang diterbitkan pada awal 1990-an. Dalam karya tersebut, Coleman mengungkap adanya kelompok elite internasional yang beranggotakan tokoh-tokoh berpengaruh, yang secara diam-diam mengendalikan arah politik dan ekonomi global. Committee 300 dipahami sebagai kekuatan yang mengaitkan berbagai konflik, krisis ekonomi, serta pergantian rezim di sejumlah negara sebagai bagian dari skema besar mereka.

Amir juga menyebutkan bahwa Raja Charles III diungkapkan sebagai salah satu figur sentral dalam jaringan global ini. “Salah satu alasan mengapa Committee 300 menarik perhatian di Indonesia adalah karena pengalaman negara ini menghadapi krisis moneter 1997-1998,” tambahnya.

Kritik terhadap Ketergantungan Internasional

Pada periode krisis tersebut, Indonesia menerima bantuan IMF yang disertai syarat-syarat melalui Letter of Intent (LoI). Kebijakan tersebut menimbulkan perdebatan panjang, di mana sebagian kalangan berpendapat bahwa syarat-syarat IMF turut mempercepat restrukturisasi ekonomi yang berdampak luas bagi dunia usaha nasional. Amir menilai bahwa ada upaya untuk mengulangi pola yang sama terhadap Indonesia.

Namun, ia menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah berbeda dengan menolak ketergantungan terhadap skema bantuan internasional yang berpotensi mengurangi kedaulatan ekonomi nasional. “Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dan tidak boleh masuk kembali ke jebakan yang sama seperti tahun 1998,” tegas Amir, menekankan pentingnya kemandirian ekonomi bagi bangsa Indonesia.

Amar Hamzah mengingatkan bahwa kedaulatan ekonomi adalah pilar penting dalam menjaga stabilitas nasional. Dengan penguatannya, diharapkan Indonesia dapat menjangkau tujuan yang lebih besar tanpa terjebak dalam pengaruh kekuatan eksternal yang berbahaya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button