Malam Ketika Kantor PDIP Kabupaten Malang Menjadi Ruang Zikir untuk Bung Karno dan Memperkuat Persatuan Bangsa

Jakarta, Maret.id — DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang menyelenggarakan Tawasulan dan Dialog Kebangsaan bertajuk “Lautan Doa” untuk memperingati Haul Bung Karno dan Taufiq Kiemas. Acara ini berlangsung dalam suasana yang hangat dan khidmat, mengubah kantor partai menjadi ruang refleksi dan harapan bagi masyarakat.
Malam itu, kantor DPC PDI Perjuangan tampak tenang, dengan lampu-lampu yang menyinari halaman. Para tamu datang dengan wajah teduh, sebagian saling menyalami, sementara yang lain memilih duduk diam.
Seiring berjalannya waktu, lantunan selawat memenuhi ruang, memecah keheningan dengan nuansa yang menenangkan. Malam itu, kantor partai bertransformasi menjadi tempat berdoa dan bermeditasi, sebagai puncak peringatan Haul Bung Karno ke-56 dan HM Taufiq Kiemas ke-13.
Acara ini dinamakan sederhana tetapi bermakna dalam: Lautan Doa. Kehadiran Kiai Kanjeng, kelompok seni dan musik religi, menambah kesakralan suasana. Melodi yang mereka sajikan terasa seperti sebuah pelukan yang lembut dan menenangkan.
Di hadapan panggung, hadir tokoh-tokoh nasional, ulama, akademisi, dan pejabat daerah yang duduk dalam kekhidmatan, menundukkan kepala saat doa dipanjatkan. Di antara mereka terdapat mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas, sosiolog Prof. Imam Prasodjo, dan Bupati Malang yang diwakili Sekda Dr. Ir. Budiar, M.Si.
Namun yang paling terasa di malam itu bukan sekadar siapa yang hadir, melainkan suasana yang menyelimuti ruangan. Ada rasa hormat kepada Bung Karno dan Taufiq Kiemas, kegelisahan terhadap kondisi bangsa, dan harapan yang tersimpan di antara para hadirin.
Didik Gatot Subroto, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, menyatakan bahwa acara ini merupakan cara partainya merawat nilai nasionalis-religius yang selama ini diyakini. “Nasionalis-religius ini bahkan sudah terefleksikan dari sosok Bung Karno,” ujar Didik.
Lebih lanjut, Didik menekankan bahwa Bung Karno harus dikenang tidak hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi juga sebagai teladan politik yang berpihak kepada rakyat. Untuk itu, rangkaian Bulan Bung Karno di Kabupaten Malang tak berhenti di satu malam.
Sebelumnya, mereka juga menggelar penghijauan lingkungan dan khataman Al-Qur’an selama dua hari berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa mengenang Bung Karno seharusnya dilakukan dengan tindakan nyata, bukan hanya sekadar kata-kata.
Malam itu, “Lautan Doa” juga mencerminkan kegelisahan terhadap situasi sosial-politik saat ini. “Lautan doa ini digagas oleh PDI Perjuangan ketika kami melihat bahwa eskalasi politik sudah semakin meninggi,” kata Abdul Qodir, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang.
Di tengah dinamika politik yang tak kunjung reda, partai ingin menghadirkan ruang untuk sejenak berhenti dan menata ulang arah. “Situasi seperti ini saatnya PDI Perjuangan mengajak masyarakat menengadah ke atas,” imbuh Adeng, sapaan akrab Abdul Qodir.
Ia menekankan betapa pentingnya memiliki ruang doa sebagai bahasa bersama, tanpa menggantikan kerja politik. Kegiatan tersebut tidak berhenti di doa, melainkan berlanjut dengan Dialog Kebangsaan yang mengangkat isu moral publik dan tantangan demokrasi.
Perpaduan antara tawasulan dan dialog menciptakan suasana yang utuh dan berimbang. Didik menegaskan, partainya tidak hanya berperan sebagai oposisi, tetapi juga sebagai penyeimbang yang mendukung program pemerintah yang bermanfaat bagi rakyat.
Malam itu, saat selawat mengisi udara dan para hadirin belum beranjak, suasana di kantor partai berubah. Ia menjadi tempat berkumpul yang membawa ketenangan, bukan sekadar lokasi politik.
Mengenang Bung Karno dan Taufiq Kiemas bukan hanya soal melihat ke belakang, tetapi juga mencari energi untuk melangkah ke depan. Di Malang, tenaga itu dicari lewat doa bersama, pikiran bersama, dan memperkuat komitmen bahwa politik seharusnya selalu kembali pada rakyat.





