Politik

Bupati Ipuk Menyambut Kedatangan Biksu Thudong di Banyuwangi

Banyuwangi, Maret.id — Sebuah perjalanan spiritual yang penuh makna telah dimulai di Banyuwangi, ketika sekelompok biksu dari tradisi Thudong tiba di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tik Liong Tian di Rogojampi. Pada Senin, 11 Mei 2026, mereka disambut dengan hangat oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, serta pengurus yayasan TITD, umat Tri Dharma, dan masyarakat lintas agama. Kehadiran para biksu yang berjumlah 56 orang ini sekaligus menandai momentum penting dalam rangkaian Indonesia Walk for Peace 2026.

Perjalanan spiritual para biksu Thudong ini memiliki tujuan akhir yang sangat signifikan, yaitu Candi Borobudur, yang akan menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak pada 31 Mei 2026. Dengan total jarak tempuh mencapai 666 kilometer, perjalanan ini melibatkan diskusi kerja sama lintas negara, dengan peserta dari Thailand, Malaysia, Laos, serta enam biksu asal Indonesia. Bupati Ipuk mengungkapkan rasa bangga bahwa Banyuwangi menjadi salah satu kota perhentian dalam perjalanan ini, menekankan pentingnya nilai-nilai yang diajarkan melalui perjalanan tersebut.

Pesan Damai dalam Keberagaman

Bupati Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa perjalanan yang dilakukan oleh para biksu ini bukan sekadar fisik, tetapi juga menghadirkan pesan mendalam tentang perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan di tengah keberagaman. “Di Banyuwangi, masjid, gereja, pura, vihara, dan klenteng hidup berdampingan. Masyarakatnya guyub dan saling membantu. Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk saling menguatkan,” tuturnya. Ini merupakan bentuk nyata dari prinsip toleransi dan integrasi sosial yang telah lama dipegang oleh masyarakat Banyuwangi.

Sikap saling menghormati dan bekerja sama di antara lintas agama ini merupakan warisan budaya yang terus dijaga. Dalam konteks histories, Banyuwangi dikenal sebagai kawasan yang memiliki berbagai latar belakang etnis dan keagamaan, sehingga menjadikannya sebagai contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam merayakan perbedaan sebagai kekuatan.

Sebuah Ritual yang Menguji Ketahanan

Perjalanan selama sekitar tiga pekan ini bukanlah hal yang mudah. Para biksu tidak hanya harus menempuh jarak yang jauh, tetapi juga harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk kondisi cuaca yang ekstrem. Dalam kesempatan tersebut, salah satu biksu asal Indonesia, Bhante Jinavaro, mengungkapkan, “Perjalanannya sangat bagus, meskipun banyak rintangan dan hambatan. Cuaca di Bali luar biasa panas dibandingkan di Pulau Jawa. Tetapi kami tetap harus punya semangat agar bisa sampai di Borobudur.” Ucapan Bhante Jinavaro menggambarkan semangat yang tidak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga spiritualitas yang menguatkan para biksu.

Setiap langkah mereka diwarnai dengan ritual dan kebersamaan, di mana sesekali mereka juga melakukan serangkaian kegiatan adat seperti mencuci kaki dan menebar bunga sebagai simbol kesucian perjalanan tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya aspek spiritual dalam perjalanan ini, yang tidak hanya melibatkan fisik tetapi juga komitmen moral dan spiritual masing-masing biksu.

Inti dari Perayaan Waisak

Candi Borobudur, sebagai tujuan akhir para biksu, merupakan salah satu situs warisan dunia yang tidak hanya megah secara arsitekur, tetapi juga sarat akan nilai-nilai spiritual dan budaya. Setiap tahun, perayaan Waisak di Candi Borobudur dihadiri oleh ribuan peziarah yang datang dari berbagai penjuru, memperingati saat Buddha Gautama mencapai pencerahan. Waisak menjadi momen yang sangat spesial bagi umat Buddha di Indonesia dan dunia, mendorong mereka untuk mengenang dan melestarikan ajaran sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Panitia Klenteng Tik Liong Tian, Siswanto, menambahkan bahwa selama perjalanan, para biksu akan singgah di sejumlah vihara dan tempat ibadah yang telah disiapkan di berbagai daerah. Hal ini tidak hanya untuk beristirahat tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat setempat, yang tentunya memperkuat jalinan persaudaraan di antara komunitas yang berbeda.

Sebagai penutup, perjalanan spiritual para biksu Thudong ke Candi Borobudur ini merupakan pengingat akan pentingnya nilai-nilai kerukunan dan toleransi antarumat beragama. Dengan semangat doa dan harapan yang tinggi, mereka berikhtiar untuk mewujudkan dunia yang lebih damai dan bersatu dalam keberagaman.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button