Jokowi Blusukan Adat untuk Kepentingan Politik Mendatang

Jakarta, Maret.id — Presiden Joko Widodo menerima gelar kehormatan dari lima kerajaan adat di Kedaton Keagungan, Bandar Lampung, pada Sabtu, 27 Juni 2026. Prosesi tersebut diwarnai dengan tradisi menginjak kepala kerbau sebagai simbol penghormatan.
Pengamat politik, Erizal, dari ABC Riset & Consulting, memberikan tanggapan kritis terhadap tindakan tersebut. “Ada jabatan politik lain yang ingin diraih Jokowi untuk yang lain, bukan dirinya sendiri,” kata Erizal.
Ia menilai tindakan Jokowi menginjak kepala kerbau dalam prosesi penerimaan gelar tersebut mengundang pertanyaan. “Agak aneh saja, prosesi orang yang diberikan gelar adat sebagai ucapan terima kasih, dengan cara menginjak kepala kerbau,” tuturnya.
Penganugerahan gelar adat kehormatan yang diadakan dalam rangkaian kunjungan Jokowi ke Lampung juga jadi sorotan. Pemberian gelar tersebut diakui sebagai salah satu langkah dalam strategi politik yang lebih luas.
Sejumlah pengamat mencatat bahwa permainan adat dalam konteks politik di Indonesia bukanlah hal baru. Namun, mereka berpendapat, biasanya hal itu dilakukan dalam upaya meraih kursi kekuasaan, bukan saat individu tersebut sudah tidak menjabat.
Kritik terhadap langkah Jokowi ini mencerminkan kekhawatiran akan pemanfaatan tradisi demi kepentingan politik di masa mendatang. “Kita harus waspada terhadap setiap langkah yang mencampurkan adat dan politik,” imbuh Erizal.





