Politik

Secangkir Kopi dan Malam Panjang Muktamar NU DPD PDIP Jatim

Jakarta, Maret.id — Di tengah keramaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebuah posko sederhana milik Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan Jawa Timur menjadi tempat singgah bagi banyak orang.

Seorang pedagang yang menjual suvenir Muktamar menghampiri meja yang dihiasi dua termos besar berisi kopi dan teh. “Mau merokok ndak enak kalau tidak sambil minum kopi,” ujar pria tersebut dengan senyuman.

Kehangatan suasana di posko dilengkapi dengan camilan sederhana seperti polopendem, ketela, mbote, dan kacang tanah. Makanan tersebut menjadi pengingat bagi banyak orang akan kerinduan pada dapur rumah.

Pada malam itu, kawasan sekitar pesantren tetap hidup. Banyak yang masih menikmati keramaian dan berbincang sambil menikmati secangkir kopi. Muktamar ini tidak hanya berlangsung dalam rapat-rapat formal, tetapi juga meresap ke dalam interaksi di jalanan, warung, dan lapak dagangan.

Seiring waktu berlalu menuju dini hari, satu per satu pengunjung mulai pulang. Para Muktamirin dan para pedagang pun berbenah, tetapi bagi beberapa orang yang belum mendapatkan tempat untuk beristirahat, Posko Baguna tetap terbuka.

Di dalam tenda sederhana, karpet menjadi tempat bagi mereka untuk merebahkan badan. Momen ini menunjukkan pentingnya fasilitas sederhana dalam acara sebesar Muktamar NU. Selain kebutuhan tempat duduk, juga disediakan toilet dan ruang untuk beribadah.

“Waktu Muktamar, kami sengaja menyewa rumah warga untuk menyediakan toilet gratis dan tempat salat,” kata Rudi Afianto, Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana, Kesehatan, Perempuan dan Anak DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.

Keberadaan posko ini membantu ribuan orang yang datang dari berbagai daerah, terutama mereka yang harus menempuh perjalanan panjang. “Alhamdulillah, mereka merasa terbantu dengan adanya Posko Baguna,” tutur Rudi.

Muktamar ini adalah momen di mana banyak hal penting terjadi di atas panggung utama dan ruang sidang. Namun, ada juga cerita-cerita kecil yang sering terlewatkan, seperti pedagang yang butuh kopi setelah berjualan, atau pengunjung yang ingin beristirahat sejenak.

Di tengah kesibukan itu, Posko Baguna menawarkan ketenangan dengan hanya sekadar termos kopi, teh, dan camilan sederhana. Suasana ini menunjukkan bahwa di antara keramaian, hal-hal kecil dapat memberikan makna yang lebih dalam bagi banyak orang.

Saat malam semakin sunyi, lampu-lampu lapak mulai padam. Namun, di tenda sederhana itu, termos kopi tetap tersedia, menunggu siapa saja yang ingin berhenti sejenak. Di sinilah Muktamar terasa lebih dari sekadar acara organisasi; ini adalah perjalanan panjang yang memerlukan secangkir kopi untuk melanjutkan langkah.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button