Seni Ukir Jepara Siap Masuk Pasar Global dan Mendapat Peningkatan Ekspor

Jakarta, Maret.id — Kementerian Ekonomi Kreatif menilai bahwa seni ukir Jepara memiliki potensi besar untuk memasuki pasar internasional. Namun, penguatan daya saing sangat bergantung pada kemampuan untuk membangun narasi, strategi pemasaran, dan distribusi yang tepat.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyampaikan hal tersebut saat menerima audiensi dari penyelenggara pameran TATAH di Jakarta. “Budaya Indonesia itu enggak mungkin bisa membosankan, karena bisa melihat dari angle yang berbeda dengan story line yang berbeda,” kata Irene.
“Ibu rasa Jepara bisa mengekspresikannya dengan sangat bagus. Lewat sekuensi pikirannya yang tergambar melalui pahatan,” ujarnya di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Irene juga menekankan pentingnya Jepara untuk membangun city branding yang kuat. Langkah ini diharapkan semakin mengukuhkan Jepara sebagai pusat seni ukir Indonesia.
“Hal ini sekaligus menarik minat generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi ukir, yang telah menjadi identitas daerah selama berabad-abad,” ujar Irene.
Pengembangan seni ukir merupakan bagian dari upaya penguatan subsektor kriya nasional. Upaya ini juga mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia.
Pameran TATAH merupakan program seni dan inisiatif kuratorial yang menyoroti perkembangan seni ukir Jepara. Pameran ini juga menyediakan ruang dialog bagi berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas pemahaman tentang nilai budaya serta potensi ekonomi seni ukir Jepara.
Pameran TATAH menampilkan 35 karya seni ukir tematik Jepara, diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari mebel, patung, relief, dekorasi interior, hingga produk kerajinan.
Keberagaman karya ini mencerminkan kemampuan para perajin dan seniman Jepara dalam mengembangkan warisan budaya menjadi produk kreatif yang relevan dengan kebutuhan zaman kini.
Direktur Pelaksana TATAH, Veronica Rompies, menyatakan bahwa pameran ini membawa narasi panjang. Ia menceritakan perjalanan Jepara sebagai ruang pertemuan berbagai peradaban dan budaya.
“TATAH hadir dari hasil kolaborasi yang unik antara seniman, pemerintah, asosiasi industri, hingga sejarawan. Hadirnya TATAH juga sebagai kapasitor untuk semakin meninggikan seni pahat asal Jepara,” kata Veronica.





