Awal pekan harga cabai rawit merah melejit tembus Rp81 ribu

Jakarta, Maret.id — Harga sejumlah bahan pangan pokok di pasar nasional kembali menunjukkan tren kenaikan pada pekan ini, dengan komoditas cabai dan bawang menjadi kontributor terbesar menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS).
Kenaikan pada Komoditas Cabai
Data PIHPS mencatat cabai rawit merah naik 13,38 persen menjadi Rp81.350 per kilogram.
Cabai merah keriting melonjak 33,81 persen menjadi Rp70.650 per kilogram, sedangkan cabai merah besar naik 24,46 persen menjadi Rp68.700 per kilogram.
Bawang Merah dan Bawang Putih Menguat
Bawang merah ikut mendorong inflasi pangan dengan kenaikan 12,84 persen sehingga diperdagangkan pada level Rp53.600 per kilogram.
Bawang putih ukuran sedang tercatat naik 5,17 persen menjadi Rp40.650 per kilogram yang menambah tekanan pada biaya masak rumah tangga.
Pergerakan Harga Beras dan Daging
Untuk beras, harga beras kualitas bawah I meningkat 3,78 persen menjadi Rp15.100 per kilogram.
Beras kualitas super relatif stabil dengan kenaikan tipis 0,29 persen menjadi Rp17.450 per kilogram, sementara daging sapi kualitas I justru turun sedikit 0,61 persen ke level Rp147.050 per kilogram.
Daging Ayam, Telur, dan Gula
Daging ayam ras segar tercatat mengalami kenaikan 0,65 persen sehingga berada pada angka Rp38.900 per kilogram.
Harga telur ayam ras segar naik 2,12 persen menjadi Rp31.250 per kilogram, sedangkan gula pasir premium naik 0,99 persen ke Rp20.400 per kilogram dan gula pasir lokal naik 0,78 persen ke Rp19.300 per kilogram.
Penyebab dan Dampak pada Konsumen
Peningkatan harga cabai dan bawang umumnya dipicu oleh faktor pasokan, cuaca, dan biaya distribusi yang meningkat sehingga berdampak langsung pada daya beli rumah tangga.
Tekanan harga pada komoditas pokok berpotensi mempercepat inflasi harga pangan dan membebani anggaran keluarga terutama di kota-kota besar.
Respon Pasar dan Langkah Mitigasi
Pedagang dan peritel di pasar tradisional umumnya menyesuaikan stok dan pasokan untuk menahan lonjakan harga sementara konsumen beralih ke substitusi bahan pangan yang lebih murah.
Pengamat pasar menyarankan perlunya peningkatan koordinasi rantai pasok serta intervensi kebijakan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan menjelang periode permintaan tinggi.
Pantauan harga secara berkala oleh otoritas terkait dinilai penting untuk memberikan sinyal intervensi yang tepat waktu di tingkat distribusi dan produksi.
Monitor pasar dan kebijakan yang akurat akan menjadi kunci agar lonjakan harga tidak berlarut dan dampaknya terhadap kelompok berpenghasilan rendah dapat diminimalkan.





