Rupiah Awal Pekan Ambles ke Rp17.740 Akibat Tekanan Eksternal

Jakarta, Maret.id — Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik. Kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran dan sejumlah kebijakan yang dinilai kurang ramah pasar disebutnya memicu arus jual yang menekan rupiah.
Tekanan Domestik Dominan
Ibrahim menilai meski harga minyak dunia mulai turun, sentimen positif dari sisi komoditas belum cukup kuat untuk mengangkat rupiah. Ia mencatat kondisi berbeda terlihat ketika mata uang negara tetangga justru menguat sementara rupiah bergerak melemah.
Ibrahim menggarisbawahi bahwa pasar melihat adanya sinyal kebijakan yang menimbulkan ketidakpastian. Hal ini, menurutnya, mendorong pelaku pasar untuk mengalihkan aset ke mata uang lain yang dianggap lebih aman.
Kebijakan Ekspor Satu Pintu dan Reaksi Pasar
Pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai mekanisme ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) juga mendapatkan sorotan tajam di pasar. Ibrahim menyebut kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan investor internasional terkait transparansi dan efektivitas pelaksanaan.
Ia menuturkan kekhawatiran itu berpotensi mendorong lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global untuk meninjau kembali peringkat utang Indonesia. Menurut Ibrahim, sejumlah kebijakan yang dirasakan kurang mendukung kepentingan pasar memperbesar tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Faktor Eksternal dan Prospek Suku Bunga AS
Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS turut menekan rupiah setelah muncul sentimen kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Ibrahim mengutip pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang menyebut beberapa jalur mediasi, namun ia mengingatkan masih ada isu krusial yang belum teratasi dalam negosiasi tersebut.
Selain itu, komentar Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Christopher Waller, yang membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi, memperkuat ekspektasi pasar bahwa tingkat suku bunga tinggi di AS bisa bertahan hingga akhir tahun. Ibrahim menilai ekspektasi suku bunga tinggi di AS akan membuat arus modal global cenderung mengalir ke aset dolar, sehingga memberikan tekanan lebih pada mata uang-negara berkembang termasuk rupiah.
Dampak pada Pasar Keuangan Domestik
Di pasar saham domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mampu rebound dan ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206 pada penutupan perdagangan, meskipun sempat tertekan pada sesi awal. Kenaikan IHSG ini menunjukkan adanya pembelian kembali oleh investor setelah sentimen negatif mereda sementara.
Meski demikian, sejumlah pengamat memperingatkan volatilitas masih berpotensi berlanjut jika kekhawatiran fiskal dan kebijakan tidak segera dijernihkan. Pelaku pasar diharapkan memantau perkembangan kebijakan fiskal, langkah-langkah pemerintah terkait ekspor, serta sinyal dari bank sentral AS untuk mengantisipasi pergerakan volatilitas di pasar mata uang dan saham.
Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah berlanjut dalam jangka pendek jika sentimen domestik tidak berubah, dan menyebut terdapat sekitar 50-60 poin kelemahan yang berpotensi terlihat pada perdagangan berikutnya. Para investor dan pembuat kebijakan diminta terus memantau kombinasi faktor domestik dan eksternal demi menahan tekanan pada stabilitas nilai tukar.





