Harga minyak dunia anjlok tajam ke level 94 dolar AS

Jakarta, Maret.id — Harga minyak dunia anjlok lebih dari 5 persen pada penutupan perdagangan Rabu, dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat di 88,68 Dolar AS per barel dan Brent di 94,29 Dolar AS per barel. Pelemahan tajam ini memicu perhatian pelaku pasar dan analis energi yang khawatir tentang prospek pasokan jangka menengah.
Penyebab Penurunan Harga
Salah satu pemicu langsung penurunan adalah pernyataan optimis terkait pembicaraan diplomatik antara Washington dan Teheran yang dinilai menunjukkan perkembangan positif. Marco Rubio menyatakan bahwa pemerintahan AS akan memberikan setiap kesempatan agar jalur diplomatik membawa hasil, yang kemudian meredam sentimen risiko dan menekan harga minyak.
Namun pernyataan itu juga menyisakan ambiguitas karena pejabat lain menegaskan opsi non-diplomatik tetap tersedia jika negosiasi gagal. Isu kemungkinan tindakan militer yang masih ada membuat pasar semakin berhati-hati terhadap fluktuasi jangka pendek.
Reaksi Pemerintahan AS dan Iran
Dalam pertemuan kabinet yang diadakan di Gedung Putih, pihak yang hadir menekankan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Pernyataan tersebut menegaskan posisi bahwa jalur laut itu tidak boleh dikuasai oleh pihak manapun sebagai bagian dari kesepakatan yang sedang dibangun.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan komitmen Teheran untuk mengembalikan arus perdagangan di Selat Hormuz ke tingkat normal dalam waktu satu bulan setelah tercapainya kesepakatan. Namun laporan tersebut langsung dibantah oleh pejabat Gedung Putih yang menyebut informasi itu tidak akurat, sehingga menambah ketidakpastian terkait detail kesepakatan yang sedang dinegosiasikan.
Ketegangan Militer yang Belum Reda
Di tengah pembicaraan diplomatik, situasi militer di kawasan masih memanas karena adanya laporan serangan yang dilakukan oleh pasukan AS di wilayah selatan Iran. Pentagon menggambarkan operasi tersebut sebagai langkah defensif, tetapi Tehran bereaksi keras dan menyatakan akan membalas tindakan itu.
Respons militer dan ancaman balasan membuat analis pasar menilai risiko gangguan pasokan tetap tinggi meskipun terjadi penurunan harga mendadak. Ketidakpastian ini mendorong beberapa importir dan perusahaan energi untuk menunda keputusan strategis sampai ada gambaran yang lebih jelas mengenai stabilitas kawasan.
Proyeksi Pemulihan Pasokan
Pejabat sektor energi menekankan bahwa pemulihan aliran minyak global tidak akan berlangsung cepat meskipun konflik mereda, karena infrastruktur dan rantai pasokan membutuhkan waktu untuk kembali normal. Sultan Ahmed al-Jaber, kepala Abu Dhabi National Oil Company, memperkirakan diperlukan setidaknya empat bulan untuk mengembalikan aliran minyak hingga sekitar 80 persen dari kondisi normal.
Al-Jaber juga memproyeksikan bahwa pemulihan penuh pasokan kemungkinan baru akan tercapai pada kuartal pertama atau kedua tahun 2027, tergantung pada stabilitas politik dan upaya rehabilitasi infrastruktur. Perkiraan ini menggarisbawahi bahwa penurunan harga jangka pendek belum berarti risiko pasokan jangka menengah telah hilang.
Implikasi untuk Pasar dan Kebijakan
Analis pasar memperingatkan bahwa volatilitas bisa kembali meningkat jika negosiasi gagal atau jika terjadi eskalasi militer baru di kawasan. Perusahaan minyak dan negara importir mulai mempertimbangkan skenario cadangan strategis dan diversifikasi rute pengiriman untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut.
Di sisi kebijakan, negara-negara konsumen utama diperkirakan akan intensifkan komunikasi diplomatik dengan produsen untuk meredam dampak energi pada perekonomian domestik. Langkah-langkah ini akan dipantau ketat oleh pasar karena bisa memengaruhi roadmap pemulihan pasokan serta harga dalam beberapa bulan mendatang.





