Harga emas ambles ke level terendah dua bulan akibat inflasi

Jakarta, Maret.id — Harga emas dunia kembali turun dipicu oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter di tengah ketidakpastian geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pelemahan ini juga tercermin pada kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni yang dilaporkan turun 1,2 persen menjadi 4.448,40 Dolar AS per ons.
Dorongan Pengetatan Moneter
Ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan menahan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi mendorong pelaku pasar menjauhi aset yang tidak memberikan imbal hasil. Investor menilai suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya peluang memegang emas sehingga permintaan melemah.
Ketidakpastian atas arah kebijakan moneter itu diperparah oleh data ekonomi yang berfluktuasi, sehingga sentimen pasar menjadi lebih sensitif terhadap berita-berita inflasi dan energi. Akibatnya, logam mulia kehilangan daya tarik relatif terhadap aset berbunga.
Dampak Konflik Timur Tengah
Konflik di kawasan Timur Tengah turut memberikan tekanan pada pasar komoditas setelah sempat terjadi penutupan Selat Hormuz yang mengerek harga minyak Brent. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi energi global yang pada gilirannya memperbesar kemungkinan The Fed mempertahankan sikap moneter ketat.
Meskipun terdapat laporan bahwa Iran akan memulihkan pengiriman minyak pasca-kesepakatan dengan AS, pasar masih menyikapi pemulihan tersebut dengan waspada. Ketidakpastian mengenai kelancaran pasokan energi menjadi faktor tambahan yang memperumit prospek harga emas dalam jangka pendek.
Komentar Pejabat The Fed dan Data yang Dinantikan
Neel Kashkari, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, menegaskan bahwa bank sentral tetap fokus pada pengendalian inflasi meski masih terlalu dini untuk memastikan arah suku bunga selanjutnya. Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa keputusan kebijakan akan sangat tergantung pada data mendatang.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS sebagai indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed. Hasil laporan PCE diharapkan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai lamanya sikap hawkish bank sentral.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Koreksi tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga pada logam mulia lain seperti perak yang anjlok 3,2 persen ke 74,46 Dolar AS per ons. Bank of America menilai potensi perak menembus level 100 Dolar AS per ons kemungkinan tidak berkelanjutan karena permintaan fundamental yang melambat.
Sementara itu, platinum tercatat turun 2,1 persen ke 1.916,90 Dolar AS per ons, sedangkan paladium menjadi satu-satunya yang mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1 persen ke 1.386,47 Dolar AS per ons. Pergerakan ini mencerminkan korelasi yang kuat antara sentimen pasar, kondisi industri, dan dinamika permintaan komoditas.
Respons pasar saat ini menunjukkan kombinasi antara kekhawatiran geopolitik dan penyesuaian terhadap ekspektasi suku bunga. Jika tekanan inflasi mereda atau risiko geopolitik meredup, momentum pemulihan harga emas dan logam mulia lainnya masih memungkinkan.





