Pemerintah gandeng swasta tingkatkan keandalan listrik untuk dukung pertumbuhan ekonomi

Jakarta, Maret.id — Gangguan kelistrikan yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera baru-baru ini memicu seruan untuk mempercepat penguatan sistem ketenagalistrikan nasional agar lebih tangguh dan berkelanjutan.
Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, mengatakan publik membutuhkan kepastian bahwa insiden pemadaman besar seperti itu tidak akan terulang.
Dampak Langsung dan Pelajaran dari Blackout
Marwan menilai blackout memberikan pelajaran penting tentang kerentanan infrastruktur ketenagalistrikan terhadap gangguan eksternal dan cuaca ekstrem.
Listrik menjadi penopang utama aktivitas ekonomi dan layanan publik sehingga gangguan berkepanjangan membawa dampak luas bagi masyarakat dan dunia usaha.
Aturan Kompensasi untuk Pelanggan
Menurut Marwan, regulasi saat ini mengatur mekanisme kompensasi bagi pelanggan terdampak, baik pelanggan pascabayar maupun prabayar.
Besaran kompensasi diatur pada rentang sekitar 20 hingga 35 persen dari biaya beban atau rekening minimum dan dihitung pada tagihan maupun pembelian token berikutnya.
Fokus pada Penguatan Infrastruktur
Marwan menekankan bahwa kompensasi administratif hanya solusi jangka pendek dan bukan pengganti perbaikan struktural pada jaringan.
Yang lebih penting adalah memastikan investasi dan langkah teknis diarahkan pada penguatan jaringan transmisi, penyempurnaan sistem proteksi, dan mitigasi risiko.
Penguatan transmisi dinilai krusial untuk mengurangi potensi pemutusan pasokan yang meluas dan mempercepat pemulihan layanan.
Peningkatan sistem proteksi juga perlu dilakukan agar gangguan lokal tidak merambat menjadi blackout skala besar.
Marwan mendorong peningkatan kapasitas adaptif terhadap cuaca ekstrem melalui standar konstruksi yang lebih ketat dan sistem pengendalian risiko.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menekan frekuensi serta durasi gangguan sehingga manfaatnya terasa jangka panjang.
Transparansi Investigasi dan Kepercayaan Publik
Selain perbaikan teknis, keterbukaan dalam proses investigasi penyebab gangguan dianggap penting untuk membangun kembali kepercayaan publik.
Penjelasan yang transparan tentang penyebab dan rencana perbaikan akan memberikan pemahaman kepada masyarakat sekaligus akuntabilitas bagi operator.
Marwan menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan kepastian layanan yang andal dan stabil, bukan sekadar kompensasi berulang.
Peningkatan keandalan sistem listrik diyakini memberikan manfaat besar bagi operasional ketenagalistrikan nasional, pelaku usaha, dan layanan publik.
Para pakar dan pemangku kepentingan diminta agar evaluasi pascablackout difokuskan pada langkah-langkah teknis dan kebijakan yang konkret.
Dengan demikian, upaya pencegahan dan perbaikan dapat dilakukan secara terpadu sehingga risiko pemadaman besar dapat diminimalkan di masa mendatang.





