Ekonomi

Inflasi Mei 2026 Tembus 3,08 Persen setelah BPS Ungkap Penyebab

Jakarta, Maret.id — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Mei 2026 naik seiring keterpaparan beberapa komoditas pangan dan transportasi yang mengalami kenaikan harga. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, memaparkan peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Ringkasan Angka Inflasi

Secara kumulatif, inflasi tahun kalender (year-to-date) hingga Mei 2026 tercatat sebesar 1,35 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year) mencapai 3,08 persen, meningkat dari 1,60 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontributor Utama Kenaikan

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan pada Mei 2026 dengan andil 0,12 persen dan tingkat inflasi 0,39 persen. Di urutan berikutnya, kelompok transportasi memberikan andil 0,07 persen dengan tingkat inflasi 0,61 persen.

Rincian Komoditas Pangan

Pudji menyebutkan sejumlah komoditas pangan dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras. Cabai merah menjadi pemberi andil terbesar yakni 0,08 persen, sedangkan minyak goreng dan bawang merah masing-masing berkontribusi 0,04 persen.

Rincian lain menunjukkan tomat menyumbang 0,03 persen dan beras 0,02 persen terhadap inflasi bulanan. Kenaikan harga pada kelompok ini terutama berpengaruh pada tekanan inflasi jangka pendek dan daya beli rumah tangga.

Peran Transportasi dalam Inflasi

Pada kelompok transportasi, bensin dan tarif angkutan udara tercatat sebagai komoditas dominan yang mendorong kenaikan harga dengan andil masing-masing 0,02 persen. Lonjakan tarif angkutan udara juga mencerminkan dinamika permintaan layanan transportasi penumpang pada periode tertentu.

Kenaikan pada subsektor transportasi turut memengaruhi indeks harga secara keseluruhan dan menjadi salah satu faktor yang diawasi oleh otoritas terkait.

Komponen Pembentuk Inflasi

Dari sisi komponen pembentuk inflasi, semua kelompok mengalami kenaikan pada Mei 2026. Komponen inti tercatat mengalami inflasi 0,22 persen yang didorong oleh naiknya harga minyak goreng, telepon seluler, laptop atau notebook, pelumas atau oli mesin, serta sejumlah jasa seperti nasi dengan lauk dan biaya pemeliharaan atau servis.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi lebih tinggi yaitu 0,52 persen, dengan kontribusi dari bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan solar.

Harga Bergejolak dan Implikasinya

Komponen harga bergejolak (volatile food) juga mengalami inflasi sebesar 0,22 persen, di mana cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau menjadi komoditas yang paling berkontribusi. Fluktuasi pada kelompok volatile food dipengaruhi oleh faktor musiman, pasokan, dan kondisi cuaca yang berdampak pada produksi.

Pudji menekankan bahwa pergerakan harga komoditas tersebut berpotensi memengaruhi tekanan inflasi jangka pendek dan memerlukan pemantauan berkelanjutan dari otoritas terkait untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Tindak Lanjut dan Pemantauan

Dengan kenaikan inflasi tahunan yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, BPS dan pemangku kebijakan dimungkinkan akan terus memantau perkembangan harga komoditas strategis. Pemantauan ini bertujuan untuk merespons perubahan pola harga melalui kebijakan pasokan, distribusi, dan koordinasi antarinstansi pemerintah.

Konsumen dan pelaku usaha juga diimbau untuk memperhatikan dinamika harga dan menerapkan kebijakan pengelolaan anggaran yang adaptif, sementara pemerintah diharapkan memperkuat upaya stabilisasi harga pangan dan energi demi menjaga daya beli masyarakat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button