Rupiah dan IHSG ambruk, dolar AS berpotensi tembus Rp18 Ribu

Jakarta, Maret.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 254 poin atau 4,11 persen ke level 5.941 pada perdagangan hari ini, menurut catatan RTI Business. Pelemahan pasar modal terjadi seiring tekanan pada nilai tukar Rupiah dan sentimen global yang mengerek kehati-hatian investor.
Perdagangan Bursa dan Statistik Transaksi
Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai sekitar Rp25,2 triliun dengan volume perdagangan mencapai 40 miliar saham serta frekuensi transaksi sebanyak 2,7 juta kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 692 saham melemah, 69 saham menguat, dan 54 saham bergerak stagnan sehingga tercermin tekanan luas pada pasar saham domestik.
Pergerakan pasar menunjukkan pelemahan saham-saham lapis kedua hingga lapis menengah, sementara saham-saham unggulan juga belum mampu menahan tekanan jual. Kepanikan sebagian pelaku pasar tercermin dari tingginya aktivitas jual yang mendorong likuiditas namun menekan harga.
Rupiah Melemah di Tengah Kekhawatiran Eksternal
Rupiah ikut tertekan dengan penutupan pada posisi Rp17.966 per Dolar AS atau melemah 127 poin atau 0,71 persen, menurut data Bloomberg. Level tersebut tercatat sebagai salah satu penutupan terlemah bagi Rupiah dalam catatan historis, yang menambah kekhawatiran mengenai stabilitas nilai tukar.
Penguatan Dolar AS seiring ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Kondisi pasar keuangan global yang risk-off membuat arus modal cenderung mengalir ke aset aman sehingga memperburuk tekanan pada mata uang domestik.
Faktor Domestik: Inflasi dan Neraca Perdagangan
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan pada Mei 2026 sebesar 0,28 persen, meningkat dari 0,13 persen pada April 2026 dengan Indeks Harga Konsumen naik dari 111,09 menjadi 111,40. Secara tahunan, inflasi tercatat pada 3,08 persen berdasarkan perhitungan tahun kalender, yang memicu kekhawatiran mengenai daya beli dan prospek inflasi ke depan.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan inflasi dipengaruhi oleh tekanan harga pangan, energi, tarif yang diatur pemerintah, serta pelemahan nilai tukar Rupiah. Menurut Ibrahim, kombinasi faktor domestik tersebut membuat sentimen investor berubah menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.
Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut drastis menjadi sekitar 89,1 juta Dolar AS dari surplus Maret 2026 sebesar 3,32 miliar Dolar AS. Meskipun demikian, Indonesia masih mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Ibrahim mengingatkan bahwa penyempitan surplus perdagangan menegaskan tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal, terutama karena gangguan pasokan global yang berkaitan dengan keamanan jalur distribusi energi. Ia menyebut bahwa gangguan di wilayah Selat Hormuz memperburuk kondisi tersebut karena hingga kini belum ada kepastian kapan arus kembali normal.
Tekanan Global dan Geopolitik
Pasar global pada hari ini masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dimana konflik yang melibatkan beberapa negara memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak yang pada akhirnya menimbulkan tekanan inflasi global dan risiko bagi negara-negara pengimpor energi.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pasar tenaga kerja yang relatif kuat, sehingga memperkuat ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Prospek suku bunga acuan yang tetap tinggi di AS berpotensi menguatkan Dolar AS dan menambah beban bagi mata uang negara berkembang.
Prospek Pasar dan Rekomendasi
Ibrahim memperkirakan Rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dengan rentang pergerakan antara Rp17.960 hingga Rp18.030 per Dolar AS. Ia menekankan perlunya kehati-hatian investor dan penelaahan ulang alokasi aset, khususnya bagi yang memiliki eksposur tinggi pada instrumen berisiko.
Sementara itu, pelaku pasar dan otoritas diperkirakan akan terus memantau data inflasi, perkembangan perdagangan internasional, serta dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal. Kondisi ini menjadi tantangan bagi upaya menjaga stabilitas moneter dan pasar keuangan di tengah ketidakpastian global.





