Pertamina Gandeng Investor untuk Percepat Transisi Energi dan Dekarbonisasi

Jakarta, Maret.id — Pertamina memaparkan strategi dekarbonisasi dan pengembangan bisnis rendah karbon dalam forum regional yang diselenggarakan World Bank di Bali, Rabu, 3 Juni 2026. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menjelaskan peta jalan perusahaan menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Pemaparan di Forum Energi Regional
Sesi bertajuk “Decarbonization: Global Technology Trends and Best Practices” menjadi salah satu rangkaian World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific. Agung menyampaikan bahwa upaya ini bagian dari kontribusi Pertamina pada transisi energi berkelanjutan di kawasan Asia Timur dan Pasifik.
Peta Jalan Dekarbonisasi Pertamina
Menurut Agung, peta jalan tersebut mengintegrasikan program dekarbonisasi operasional dan pengembangan usaha rendah karbon. Program ini juga sejalan dengan visi pembangunan nasional Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Pertamina menekankan pentingnya keseimbangan dalam menyelesaikan trilema energi: keamanan pasokan, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan lingkungan. Agung menggarisbawahi bahwa ketidakpastian geopolitik dan perubahan iklim menuntut konsistensi langkah perusahaan.
Langkah Operasional dan Efisiensi Emisi
Di tingkat operasional, perusahaan melakukan elektrifikasi peralatan untuk menggantikan mesin berbahan bakar fosil dengan tenaga listrik. Inisiatif ini tercatat menghasilkan efisiensi sebesar 1,52 MMtCO2e dan menyumbang sekitar 66,86 persen dari total pengurangan emisi internal Pertamina.
Pertamina juga aktif mengurangi praktik flaring serta mengimplementasikan teknologi untuk efisiensi proses produksi. Program pengurangan emisi ini menjadi contoh praktik terbaik bagi peserta forum dari berbagai negara.
Pengembangan Bisnis Rendah Karbon
Pada sisi bisnis, Pertamina fokus pada inovasi bahan bakar nabati atau biofuel, termasuk biodiesel dan bioetanol, guna memperluas portofolio rendah karbon. Perusahaan memperkirakan potensi penjualan biofuel mencapai 60 juta kiloliter pada 2029 dengan Bio Refinery Cilacap sebagai proyek strategis.
Pertamina juga mengembangkan proyek Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) sebagai bagian dari solusi industri untuk menurunkan jejak karbon. Upaya ini dirancang untuk membuka peluang bisnis baru sekaligus mendukung target emisi nasional.
Percepatan Energi Panas Bumi
Pertamina mendorong peningkatan kapasitas pembangkit listrik ramah lingkungan, termasuk pengembangan panas bumi. Perusahaan menargetkan tambahan kapasitas 1,4 GW melalui proyek di Hululais dan Lahendong.
Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 & 8 telah dimasukkan dalam “Green Book” Kementerian PPN/Bappenas, yang membuka akses pembiayaan dari lembaga internasional. Masuknya proyek tersebut diharapkan mempercepat realisasi bauran energi bersih nasional.
Dukungan Pembiayaan Internasional
Masuknya proyek ke dalam daftar prioritas nasional meningkatkan peluang pembiayaan dari World Bank dan institusi keuangan internasional lainnya. Agung menyatakan bahwa skema pendanaan internasional penting untuk mempercepat implementasi teknologi bersih.
Pertamina juga melihat sinergi antara pendanaan, kebijakan pemerintah, dan kolaborasi sektor swasta untuk memastikan keberlanjutan proyek. Langkah ini dinilai krusial demi mempercepat transisi energi tanpa mengorbankan ketersediaan energi bagi masyarakat.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meskipun berbagai inisiatif telah berjalan, Agung mengakui tantangan besar pada aspek teknis, finansial, dan regulasi. Perlu ada koordinasi lintas pemangku kepentingan agar target NZE 2060 dapat dicapai secara realistis.
Ke depan, Pertamina akan terus mengembangkan inovasi teknologi dan model bisnis yang mendukung ekonomi rendah karbon. Selain itu, perusahaan berharap proyek percontohan dapat direplikasi untuk memperbesar dampak positif terhadap pengurangan emisi nasional.
Penutupan diskusi menekankan pentingnya komitmen jangka panjang, investasi teknologi, serta dukungan kebijakan untuk memperkuat langkah transisi energi. Pertamina menyatakan kesiapannya untuk terus berperan aktif dalam upaya dekarbonisasi nasional dan regional.





