Ekonomi

Investor Amerika Raih Peluang Properti dan Pariwisata Bali Meski Gejolak

Jakarta, Maret.id — US-ASEAN Business Council (USABC) menilai Pulau Dewata masih menyimpan peluang besar bagi investasi dan pengembangan sektor strategis meski kondisi ekonomi global menghadapi tekanan, sebagaimana disampaikan pada Executive Briefing USABC di Denpasar, Kamis, 4 Juni 2026.

Angga Antagia, Direktur Inisiatif Strategis US-ASEAN Business Council (USABC), menegaskan bahwa pihaknya terus membangun berbagai bentuk kerja sama dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha lokal.

Dorongan Kerja Sama Lintas Sektor

Angga mengatakan USABC fokus pada kolaborasi di bidang pertanian, penguatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pengembangan sumber daya manusia, serta ekonomi digital.
Ia menambahkan bahwa meskipun dolar AS menguat dan tekanan ekonomi global meningkat, perusahaan anggota USABC tetap mencari peluang baru dan mendorong inovasi untuk menjawab tantangan tersebut.

Data Investasi AS di Bali

Realisasi investasi dari Amerika Serikat di Bali hingga Triwulan I 2026 tercatat mencapai Rp661,58 miliar dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 599 orang.
Amerika Serikat menempati posisi investor terbesar kelima di Bali dengan investasi yang tersebar pada sektor hotel dan restoran, perumahan, perdagangan, jasa, serta industri kimia dan farmasi.

Sektor hotel dan restoran menjadi penyumbang terbesar investasi Amerika Serikat di Bali dengan nilai mencapai Rp279,87 miliar dari 90 proyek.
Sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menyusul dengan total investasi sekitar Rp252,17 miliar yang berasal dari 277 proyek.

Rencana Ekspansi dan Penggunaan Produk Lokal

Sejumlah perusahaan anggota USABC memaparkan kontribusi dan rencana pengembangan usaha mereka di Bali, termasuk rencana ekspansi jaringan perhotelan.
Marriott International mengungkapkan rencana penambahan hotel baru di Pulau Dewata dan saat ini telah mengoperasikan 27 hotel di Bali, kata Saraswati Subadja selaku perwakilan Marriott International.

Saraswati menyatakan bahwa lokasi hotel baru masih belum bisa diumumkan, namun pihaknya menegaskan komitmen untuk memperkuat penggunaan produk lokal melalui program “Bali for Bali”.
Program tersebut dilaporkan telah menyerap produk pertanian dan bahan baku lokal senilai sekitar Rp14 miliar sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai pasok domestik.

Terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS, Saraswati menilai dampaknya terhadap operasional hotel relatif terkendali karena sebagian besar kebutuhan dipasok secara lokal.
Ia mengingatkan bahwa aspek yang perlu diperhatikan adalah efisiensi energi dan asal sumber energi yang digunakan dalam operasional sektor pariwisata.

Keterlibatan Perusahaan Non-Pariwisata

Selain sektor pariwisata, anggota USABC juga menunjukkan keterlibatan pada pengembangan sektor lain seperti pertanian yang menjadi prioritas pembangunan daerah.
Corteva Agriscience, perusahaan teknologi pertanian, menyatakan komitmennya untuk meningkatkan produktivitas melalui transfer pengetahuan dan teknologi kepada petani lokal.

Komitmen investasi dan program-program korporasi Amerika Serikat itu dinilai sejalan dengan agenda Transformasi Ekonomi Kerthi Bali yang sedang didorong Pemerintah Provinsi Bali.
Transformasi ini bertujuan mendiversifikasi struktur ekonomi dari ketergantungan pada pariwisata menuju penguatan sektor pertanian organik, kelautan dan perikanan, industri berbasis budaya, serta ekonomi kreatif dan digital.

Tantangan Pembangunan dan Kebutuhan Investasi

Struktur ekonomi Bali saat ini masih didominasi sektor pariwisata yang mencapai sekitar 68,33 persen sehingga menimbulkan tantangan ketimpangan pembangunan antara Bali Selatan dan wilayah lainnya.
Pemerintah daerah mendorong pengembangan sektor-sektor prioritas untuk mengurangi kesenjangan tersebut dan meningkatkan ketahanan ekonomi lokal.

Pemerintah Provinsi Bali memproyeksikan kebutuhan investasi hingga tahun 2045 mencapai sekitar Rp8.939 triliun, dengan sekitar 96 persen kebutuhan diharapkan berasal dari sektor swasta dan masyarakat.
Para pelaku usaha dan pemangku kepentingan menilai bahwa kolaborasi antara investor asing, perusahaan lokal, dan kebijakan pemerintah daerah akan menjadi kunci untuk mewujudkan target investasi dan transformasi ekonomi jangka panjang.

Para pemangku kepentingan yang hadir pada forum tersebut menyoroti pentingnya kesinambungan program, penguatan kapasitas lokal, dan kebijakan yang mendukung iklim investasi berkelanjutan.
Optimisme terhadap prospek investasi di Bali tetap tinggi, namun para pihak juga menekankan perlunya perhatian pada aspek lingkungan, tenaga kerja, dan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button