Ekonomi

Pemerintah Diminta Bertindak Tegas Saat Rupiah Ambles, IHSG Tertekan

Jakarta, Maret.id — Managing Director PEPS, Anthony Budiawan, menyatakan arah pelemahan Rupiah hingga menembus Rp18.000 per Dolar AS bukanlah kejutan karena tren tersebut telah diperkirakan banyak pihak meskipun pemerintah berulang kali meyakinkan publik bahwa mata uang domestik akan menguat.

Kurs Tembus Rp18.000, Respons Pasar

Anthony menilai kondisi saat ini mencerminkan kegagalan narasi penenangan yang dilancarkan pemerintah karena tidak diiringi kebijakan konkret untuk mengembalikan kepercayaan pelaku pasar.
Ia menyatakan bahwa pernyataan pejabat pemerintah yang meremehkan kritik ekonom justru memperburuk kredibilitas, dan mencontohkan bahwa Menteri Keuangan pernah menyebut pengkritik tidak paham ekonomi menurut penilaiannya.

Dampak pada Pasar Modal dan Sentimen Investor

Menurut Anthony, tekanan terhadap nilai tukar juga tercermin pada pasar saham, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangannya di bawah level 6.000, turun sekitar sepertiga dari puncaknya pada awal Januari.
Kondisi itu memperkuat kekhawatiran bahwa investor asing semakin menarik diri, sementara kebijakan yang diambil pemerintah dalam kondisi mendadak turut meningkatkan ketidakpastian pasar.

Kebijakan Ekspor dan Sumber Ketidakpastian

Anthony menunjuk kebijakan kewajiban ekspor batu bara dan kelapa sawit melalui satu pintu di PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai salah satu contoh kebijakan mendadak yang memicu keresahan pelaku usaha.
Ia menyatakan, kebijakan semacam itu menimbulkan pertanyaan di kalangan pengusaha dan investor tentang arah perekonomian nasional ke depan.

Cadangan Devisa Menyusut dan Ketergantungan pada Arus Modal

PEPS mencatat cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam empat bulan pertama 2026, dari 156,5 miliar Dolar AS pada akhir Desember 2025 menjadi 146,2 miliar Dolar AS pada akhir April 2026, atau turun sekitar 10,3 miliar Dolar AS.
Anthony menegaskan pergerakan Rupiah saat ini sangat bergantung pada masuknya aliran modal asing dan ketersediaan dana untuk menutup capital outflow sehingga tanpa dukungan arus dana yang memadai tekanan terhadap nilai tukar diperkirakan akan berlanjut.

Panda Bond dan Peran Kebijakan Moneter

Anthony menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin pada bulan lalu belum memberikan dampak berarti terhadap stabilitas Rupiah, sehingga perhatian kini tertuju pada upaya pemerintah menerbitkan Panda Bond — surat utang berdenominasi Yuan di pasar keuangan China.
Ia memperingatkan bahwa keberhasilan penerbitan Panda Bond menjadi variabel krusial; apabila gagal atau hasilnya jauh di bawah ekspektasi sehingga tidak cukup menutup capital outflow, Rupiah berisiko terus terdepresiasi.

Skenario Terburuk dan Kebutuhan Informasi Independen

Anthony memperingatkan, dalam skenario terburuk kurs Rupiah dapat menembus level Rp20.000 per Dolar AS, atau mengalami depresiasi sekitar 21 persen dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang menggunakan angka Rp16.500 per Dolar AS.
Di tengah situasi itu, ia menekankan kebutuhan publik akan analisis dan informasi alternatif yang independen agar masyarakat dapat memahami risiko ekonomi secara objektif dan mengambil langkah antisipasi yang tepat, bukan hanya mengandalkan narasi optimisme yang menurutnya berulang kali meleset.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button