Ekonomi

BNI Gandeng Pelaku Industri Dorong Investasi Hijau dan Berkelanjutan

Jakarta, Maret.id — Bank Negara Indonesia (BNI) mempertegas komitmen keberlanjutan dengan mempercepat agenda pembiayaan rendah karbon dan program-program berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG). Langkah ini sejalan dengan tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim” yang mengajak perubahan kesadaran menjadi aksi nyata menghadapi ancaman Triple Planetary Crisis.

Peran Strategis Perbankan dalam Transisi Iklim

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menegaskan sektor perbankan memegang peranan strategis dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui pembiayaan yang bertanggung jawab. Menurut Okki, pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring upaya menjaga kelestarian lingkungan agar manfaat ekonomi jangka panjang dapat dinikmati generasi mendatang.

BNI memasang target ambisius untuk menyelaraskan diri dengan target Pemerintah Indonesia yang menargetkan Net Zero Emissions pada 2060. Untuk itu, bank pelat merah ini membidik pencapaian NZE untuk scope 1 dan 2 pada 2028 serta NZE untuk scope 3, termasuk pembiayaan, pada 2060.

Penyesuaian Kriteria Pembiayaan dan Taksonomi Keuangan

Proses penilaian debitur BNI kini diselaraskan dengan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) untuk mendorong pemilihan proyek yang ramah iklim. Sektor hulu yang menjadi fokus antara lain energi, konstruksi, real estat, transportasi, logistik, kehutanan, dan perkebunan.

Ekspansi pembiayaan hijau dilakukan lewat instrumen keuangan seperti Sustainability Linked Loan (SLL) dan penerbitan Sustainability Bond yang mulai diluncurkan sejak 2025. Instrumen-instrumen ini diharapkan memicu peralihan investasi korporasi ke proyek rendah karbon dan berkelanjutan.

Program untuk Korporasi dan UMKM

Selain membidik korporasi besar, BNI menjalin kerja sama dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk adopsi praktik ramah lingkungan. Program Jejak Kopi Khatulistiwa (JKK) serta BNI UMKM Ramah Lingkungan (BUMI) menjadi contoh upaya mendorong rantai nilai yang lebih hijau.

Okki menyatakan program-program tersebut bertujuan memperkuat kapasitas pelaku usaha kecil agar dapat memenuhi standar keberlanjutan dan mengakses pembiayaan hijau. Pendekatan ini juga diharapkan memperluas dampak positif ke tingkat komunitas dan rantai pasok nasional.

Inisiatif Internal dan Mitigasi Risiko Iklim

Di tingkat internal, BNI menerapkan prinsip Zero Waste to Landfill untuk menekan emisi operasional dan meningkatkan efisiensi sumber daya. Saat ini, 100 persen limbah operasional di kantor pusat BNI diklaim sudah diolah kembali melalui proses daur ulang.

Untuk mengelola risiko iklim di sektor riil, BNI meluncurkan advisory playbook pertama di Indonesia khusus untuk sektor perkebunan kelapa sawit sebagai panduan transisi menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Buku panduan tersebut dimaksudkan membantu debitur menstrukturkan rencana transisi hijau yang resilien dan dapat diukur.

Tanggung Jawab Sosial dan Dampak Lapangan

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BNI yang bertajuk “BNI Berbagi” aktif di kawasan Hutan Organik Megamendung, Bogor, dengan fokus rehabilitasi lahan kritis. Sejak 2018, BNI konsisten merehabilitasi 10 hektare dengan menanam 10.000 pohon, yang diperkirakan mampu menyerap sekitar 2.002 ton CO2e.

Okki menilai kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci efektivitas aksi keberlanjutan. “Momentum ini menjadi kesempatan bagi kita semua untuk memperkuat kolaborasi; langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar bagi keberlanjutan bumi,” ujarnya.

BNI juga menegaskan akan terus mengembangkan instrumen dan kemitraan berbasis data untuk memastikan target-target rendah karbon dapat dicapai secara transparan dan akuntabel. Kebijakan internal dan program eksternal diharapkan mampu memperkuat kontribusi sektor perbankan terhadap agenda iklim nasional.

Prospek dan Tantangan ke Depan

Meski menaruh harapan besar pada pembiayaan hijau, BNI mengakui terdapat tantangan dalam mempercepat transisi ekonomi, khususnya pada pembiayaan sektor-sektor padat karbon. Tantangan ini mencakup perluasan kapasitas teknis debitur, keterbatasan data emisi, serta kebutuhan harmonisasi kebijakan di tingkat nasional dan sektor.

Ke depan, BNI berencana memperkuat dukungan teknis bagi nasabah, meningkatkan transparansi pelaporan, dan memperluas kolaborasi dengan regulator serta lembaga internasional. Langkah-langkah tersebut dimaksudkan untuk memastikan bahwa target NZE serta komitmen keberlanjutan dapat diwujudkan tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi.

Demikian rangkaian inisiatif yang ditempuh BNI sebagai bagian dari kontribusi sektor keuangan dalam menghadapi krisis iklim global. Bank nasional ini menempatkan keberlanjutan sebagai elemen penting strategi bisnis jangka panjang sekaligus tanggung jawab sosial terhadap lingkungan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button