Pasar Kirim Sinyal Keras Setelah IHSG Tembus Level Era Pandemi

Jakarta, Maret.id — Kepala Riset Fraus Kapital Alfred Nainggolan menilai koreksi tajam yang dialami IHSG lebih mencerminkan runtuhnya kepercayaan investor terhadap kondisi makroekonomi daripada masalah fundamental emiten. Ia menyebut penurunan indeks tersebut telah mendorong Indonesia menjadi salah satu pasar dengan performa terburuk dibandingkan negara berkembang lain pada periode yang sama.
Kondisi IHSG dan Besaran Koreksi
Alfred memperkirakan IHSG sudah terkoreksi sekitar 35 persen sejak awal tahun, mendekati tekanan saat pandemi Covid-19 pada 2020 ketika indeks sempat jatuh sekitar 38 persen. Ia menekankan angka ini menunjukkan skala kejatuhan yang luar biasa dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Alfred juga menyoroti arus keluar modal asing yang deras, yang menurutnya telah mencapai sekitar Rp52 triliun, salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia. Menurut dia, besarnya capital outflow itu menandakan investor global memilih mengurangi eksposur pada aset-aset domestik.
Perbandingan Internasional
Sebagai pembanding, Alfred menyebut indeks saham India hanya terkoreksi sekitar 12 persen pada periode yang sama, jauh lebih kecil dibandingkan pergerakan IHSG. Ia menggunakan data perbandingan itu untuk menegaskan bahwa tekanan yang dialami pasar Indonesia tidak semata akibat faktor global.
Alfred berargumen bahwa jika penyebab utama adalah faktor eksternal, maka tekanan pasar pada negara-negara lain seharusnya sebanding, namun faktanya Indonesia lebih terdampak. Hal ini menurutnya menunjukkan adanya faktor domestik yang memperburuk sentimen investor.
Kinerja Emiten Kontras dengan Harga Saham
Meski harga saham melemah, Alfred menilai kinerja perusahaan tercatat pada kuartal pertama 2026 secara umum masih relatif solid. Ia menyatakan adanya ketidaksesuaian antara kinerja fundamental emiten dan penurunan harga pasar yang terjadi.
Ia menambahkan bahwa pelemahan pasar lebih berkaitan dengan persepsi terhadap arah kebijakan ekonomi dan sejumlah isu domestik yang dinilai menimbulkan ketidakpastian. Fenomena ini membuat pasar merespons negatif meski laba dan pendapatan korporasi belum menunjukkan kerusakan yang signifikan.
Harapan Investor dan Tuntutan Kepastian Kebijakan
Alfred menegaskan bahwa pernyataan optimistis pemerintah, termasuk upaya komunikasi kebijakan di bawah Presiden Prabowo Subianto, belum cukup untuk membalikkan sentimen negatif jika tidak diikuti kepastian arah kebijakan. Ia menilai investor membutuhkan konsistensi dan solusi konkret terhadap isu-isu yang menjadi perhatian pasar.
“Yang menjadi pertanyaan investor adalah mengapa koreksi bisa sedalam ini ketika pemerintah terus menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat dan prospeknya tetap baik,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa selama pertanyaan-pertanyaan mendasar itu belum terjawab, pasar kemungkinan besar akan terus bereaksi negatif. Alfred menekankan perlunya langkah-langkah kebijakan yang jelas untuk meredam arus keluar modal dan memulihkan kepercayaan pasar.
Pakar pasar ini menyerukan agar otoritas terkait memperkuat komunikasi kebijakan, menghadirkan kepastian regulasi, serta merumuskan langkah-langkah yang mampu menanggulangi faktor domestik penyebab ketidakpastian. Ia menilai kombinasi kebijakan yang kredibel dan transparan merupakan kunci bagi pemulihan berkelanjutan pasar saham Indonesia.





