Ekonomi

IHSG ambles hampir lima persen saat Dolar AS tembus Rp18.187

Jakarta, Maret.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan sore ini dengan tekanan jual yang meluas, bahkan sempat bergerak di kisaran terendah 5.317 hingga tertinggi 5.523 menurut data Bursa Efek Indonesia.
Pasar terpantau terkoreksi hampir di seluruh sektor dengan 661 saham berada di zona merah, sementara hanya 78 saham menguat dan 78 saham stagnan.

Perdagangan dan likuiditas pasar

Aktivitas perdagangan tercatat tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp21,7 triliun dan volume perdagangan sebanyak 32 miliar saham.
Frekuensi transaksi mencapai sekitar 2,2 juta kali sehingga kapitalisasi pasar terkoreksi menjadi Rp9.438 triliun.

Pergerakan IHSG dalam jangka pendek menunjukkan penurunan tajam dimana indeks merosot 12,82 persen selama lima hari terakhir.
Jika dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya, penurunan lebih dalam tercatat sebesar 23,38 persen.

Tekanan di pasar valuta asing

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham tetapi juga pada pasar valuta asing, di mana rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan sore ini.
Nilai tukar rupiah berada pada level Rp18.187 per dolar AS, terkoreksi sebesar 151,5 poin atau 0,84 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah ini, menurut pengamat, terhubung dengan data cadangan devisa yang dirilis baru-baru ini oleh otoritas terkait.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa menyusutnya cadangan devisa menambah sentimen negatif bagi nilai tukar domestik.

Cadangan devisa dan implikasinya

Bank Indonesia mencatat cadangan devisa per akhir Mei 2026 sebesar 144,9 miliar dolar AS, turun dari 146,2 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.
Angka tersebut merupakan penurunan yang membuat level cadangan devisa berada pada posisi terendah sejak Juni 2024, ketika catatan berada pada 140,2 miliar dolar AS.

Ibrahim Assuaibi menilai bahwa penurunan cadangan devisa tersebut menjadi salah satu faktor pemicu naiknya risiko nilai tukar dan ketidakpastian pasar.
Dalam analisanya ia menyebutkan bahwa jika ditinjau dari data historis, level 144,9 miliar dolar AS merupakan titik terendah baru dalam 23 bulan terakhir.

Pengaruh penurunan cadangan devisa terhadap pasar keuangan bisa bersifat langsung dan tidak langsung, antara lain melalui persepsi likuiditas eksternal dan kemampuan membiayai impor.
Pasar yang sensitif terhadap berita eksternal cenderung merefleksikan sentimen tersebut melalui aksi jual di aset berisiko seperti saham dan mata uang.

Ibrahim memprediksi bahwa pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup lebih lemah dalam rentang Rp18.180 sampai Rp18.230 per dolar AS.
Pelaku pasar dan investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan cadangan devisa, arus modal, serta kebijakan moneter yang dapat mempengaruhi volatilitas pasar.

Sentimen global, termasuk kondisi pasar keuangan internasional dan harga komoditas, tetap menjadi faktor penentu aliran modal dan kinerja pasar domestik.
Sementara itu, pelaku pasar juga akan memantau langkah-langkah kebijakan dari otoritas terkait yang dapat meredam tekanan pada nilai tukar dan stabilitas pasar keuangan.

Sumber likuiditas dan sentimen lokal juga perlu diperhatikan, khususnya menjelang data ekonomi dan keputusan kebijakan yang akan datang.
Investor ritel dan institusi diimbau untuk menjaga manajemen risiko serta menyesuaikan eksposur portofolio mengingat ketidakpastian yang meningkat di pasar saat ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button