Pertamina gandeng SLB perkuat produksi migas dan solusi rendah karbon

Jakarta, Maret.id — PT Pertamina (Persero) mengumumkan penandatanganan kesepakatan kerja sama strategis dengan perusahaan layanan energi global SLB yang memanfaatkan momentum kunjungan kenegaraan dan keterlibatan bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Prancis. Kesepakatan ini dirancang untuk memperkuat kolaborasi teknologi dan operasional di sektor migas serta mendukung upaya transisi energi nasional menuju praktik yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Ruang Lingkup Kerja Sama
Kerja sama itu akan berfokus pada pemetaan potensi area kolaborasi yang meliputi studi bawah permukaan, perekahan multitahap (multistage fracturing/MSF), pengembangan sumber daya nonkonvensional, serta teknologi peningkatan perolehan minyak (enhanced oil recovery/EOR). Kedua pihak juga menyoroti penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), pengembangan panas bumi, dan integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Tujuan Teknologi dan Transfer Keahlian
Pertamina menegaskan bahwa transfer teknologi serta kolaborasi keahlian menjadi fokus utama untuk memperkokoh ketahanan energi nasional. Menurut Wakil Direktur Utama & Deputy CEO PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, upaya bersama dengan mitra teknologi global diperlukan untuk mendorong inovasi yang meningkatkan kinerja operasi dan produksi migas.
Keterangan Resmi dan Komitmen
“OJK terus memperkuat kemitraan dengan pemain teknologi global untuk mendorong inovasi yang dapat meningkatkan kinerja operasional, mendukung peningkatan produksi migas, serta mempercepat pengembangan solusi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Oki Muraza dalam keterangannya pada Senin, 8 Juni 2026. Melalui pernyataan tersebut, Pertamina menegaskan komitmen untuk menerjemahkan poin-poin prioritas menjadi program konkret di lapangan.
Rencana Implementasi Lapangan
Dalam pelaksanaannya, Pertamina dan SLB sepakat untuk segera mengidentifikasi proyek percontohan dan memulai penerapan teknologi yang telah disepakati, termasuk demonstrasi CCS dan integrasi AI pada operasi produksi. Langkah taktis ini diharapkan menyokong target transisi energi nasional sekaligus menjaga kedaulatan energi Indonesia.
Potensi Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Kolaborasi tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas lapangan migas melalui teknik EOR dan pemanfaatan sumber daya nonkonvensional, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi terhadap pasokan energi domestik. Di sisi lain, penerapan CCS dan praktik ramah lingkungan menjadi kunci untuk menekan jejak karbon sektor migas selama proses peningkatan produksi berlangsung.
Pengawasan dan Tantangan Regulasi
Para pengamat menilai bahwa keberhasilan kerja sama ini akan sangat bergantung pada sinkronisasi kebijakan, standar lingkungan, dan mekanisme pengawasan yang ketat dari pemerintah. Regulasi yang jelas dan dewasa terkait pemanfaatan teknologi baru, keselamatan operasi, serta jaminan perlindungan lingkungan diperlukan untuk meminimalkan risiko dan memastikan manfaat bagi publik.
Pertemuan lintasnegara yang menjadi latar kesepakatan ini dinilai sebagai sinyal kuat bagi meningkatnya keterlibatan pemain teknologi global dalam upaya penguatan rantai nilai energi Indonesia. Jika diimplementasikan sesuai komitmen, kerja sama Pertamina dan SLB dapat menjadi contoh untuk kolaborasi yang menggabungkan peningkatan produksi migas dan tujuan keberlanjutan jangka panjang.





