Ekonomi

Keterangan Iran dan Israel mengerek harga minyak dunia naik tipis

Jakarta, Maret.id — Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kembali naik pada penutupan perdagangan Senin, 8 Juni waktu AS, terdorong kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Pergerakan Harga di Pasar Internasional

Brent ditutup menguat 1,16 dolar AS atau 1,3 persen menjadi 94,25 dolar AS per barel. WTI juga mencatat kenaikan 0,76 dolar AS atau 0,8 persen menjadi 91,30 dolar AS per barel.

Kenaikan tersebut menambah tren penguatan yang sudah berlangsung sejak konflik di Timur Tengah berlangsung lebih dari 100 hari. Sejak awal eskalasi, Brent telah melonjak sekitar 31 persen dan WTI naik sekitar 37 persen, dengan puncak volatilitas pada April ketika Brent sempat menembus 126 dolar AS per barel.

Pemicu Kenaikan: Ketegangan Militer dan Risiko Jalur Pelayaran

Sentimen pasar memburuk setelah laporan serangan lintas front antara Iran dan Israel, termasuk klaim Israel melakukan serangan terhadap fasilitas petrokimia di barat daya Iran. Iran, melalui Korps Garda Revolusi, menegaskan telah menanggapi dengan serangan terhadap fasilitas yang disebutkan berada di wilayah Haifa.

Ketegangan juga mencakup serangan Israel ke basis Hizbullah di Beirut pada akhir pekan sebelumnya, serta pernyataan Iran bahwa setiap upaya penyelesaian konflik harus mencakup penghentian operasi militer Israel di Lebanon. Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dari kawasan yang strategis.

Pasar semakin waspada terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) setiap harinya. Pernyataan Duta Besar Iran untuk Moskow bahwa Selat Hormuz akan “tetap dibuka” namun beroperasi berdasarkan aturan yang ditetapkan Iran dan Oman memicu spekulasi adanya biaya transit baru atau pembatasan lalu lintas kapal.

Perkembangan Militer dan Dampaknya

Komandan Pasukan Quds Iran, Esmail Qaani, menyatakan rencana pembentukan “sabuk keamanan” baru yang membentang dari Selat Hormuz hingga Selat Bab el-Mandeb, mencakup wilayah Teluk hingga Laut Merah. Pernyataan ini menambah ketidakpastian terhadap rute pengiriman minyak dan potensi eskalasi yang lebih luas.

Di Laut Merah, kelompok Houthi di Yaman yang mendapat dukungan Iran mengumumkan pelarangan lintas bagi kapal yang memiliki hubungan dengan Israel, langkah yang berpotensi menghambat lalu lintas perdagangan internasional. Kondisi ini meningkatkan kapasitas gangguan terhadap rute alternatif seperti Terusan Suez dan jalur-jalur maritim pengganti.

Respons Produksi dan Dampak Pasokan

Di tengah kekhawatiran pasokan, kelompok produsen OPEC+ menyepakati kenaikan target produksi minyak untuk kuota bulan mendatang, menjadi keputusan keempat yang diambil dalam empat bulan terakhir. Namun sejumlah analis energi menilai kenaikan alokasi tersebut berpotensi terbatas dampaknya karena banyak anggota OPEC+ yang belum mampu memenuhi target produksi mereka.

Arab Saudi menunjukkan sinyal kompetisi pasar dengan kembali memangkas harga jual resmi (OSP) minyak mentahnya ke pasar Asia untuk pengiriman Juli, langkah yang dianggap bertujuan mempertahankan pangsa pasar di tengah gejolak harga. Pengurangan harga resmi ini memberikan tekanan pada produsen lain namun belum cukup menurunkan kecemasan pasar terkait pasokan.

Prospek Pasar dan Risiko Ke depan

Para pengamat memperingatkan bahwa volatilitas harga minyak kemungkinan akan berlanjut selama ketidakpastian geopolitik tetap tinggi dan rute-rute pengiriman utama terancam. Investor dan pelaku pasar kini memantau perkembangan diplomasi, respons militer di lapangan, serta kemampuan produsen untuk menaikkan output guna menstabilkan pasokan global.

Sementara itu, potensi kebijakan baru seperti biaya transit di Selat Hormuz atau pembentukan zona keamanan yang lebih luas dapat mengubah alur perdagangan energi global. Dampak langsung terhadap harga konsumen di berbagai pasar masih bergantung pada durasi konflik dan efektivitas langkah-langkah mitigasi dari negara-negara produsen maupun lembaga internasional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button