Naiknya Dolar AS Tekan Angkutan Penyeberangan dan Dorong Kenaikan Tarif

Jakarta, Maret.id — Nilai tukar rupiah menurut kurs transaksi Bank Indonesia pada Selasa, 9 Juni 2026 tercatat di level Rp18.136 per dolar AS. Pada waktu yang sama, harga minyak mentah dunia berada di kisaran 94 dolar AS per barel sehingga menambah tekanan biaya bagi sektor transportasi laut dalam negeri.
Tekanan pada Biaya Operasional
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo, menyatakan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap komponen biaya yang sensitif terhadap mata uang asing. Ia menegaskan kombinasi nilai tukar yang melemah dan harga minyak yang tinggi memperberat beban operasional kapal.
Khoiri menjelaskan bahwa kenaikan biaya tidak sekadar bersifat fluktuatif, melainkan berdampak pada struktur biaya tetap perusahaan pelayaran penyeberangan. Ia menambahkan pendapatan perusahaan relatif stagnan karena tarif angkutan belum disesuaikan dengan kondisi biaya saat ini.
Rincian Kenaikan Biaya
Menurut penjelasan Khoiri, sebagian besar komponen biaya mengalami peningkatan signifikan yang paling terasa pada biaya perawatan kapal. Ia mengungkapkan bahwa suku cadang kapal tercatat naik sekitar 30-40 persen dan oli naik hingga 60 persen.
Ia juga mengutip data dari Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) yang menunjukkan biaya pengedokan atau dok kapal meningkat sekitar 20 persen. Kenaikan-kenaikan tersebut, kata Khoiri, menimbulkan tekanan pada likuiditas dan arus kas perusahaan pelayaran.
Tarif yang Tertinggal
Khoiri menilai tarif angkutan penyeberangan saat ini ketinggalan jauh dari perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) yang sebenarnya. Berdasarkan perhitungan internal Gapasdap, ketertinggalan tarif diperkirakan mencapai sekitar 83 persen dari kebutuhan biaya operasional.
Ia mengingatkan bahwa tanpa penyesuaian tarif, perusahaan pelayaran menghadapi risiko menurunnya kualitas layanan karena keterbatasan biaya untuk pemeliharaan dan penggantian suku cadang. Pernyataan tersebut menegaskan adanya kesenjangan antara tarif yang berlaku dan realitas biaya produksi di lapangan.
Implikasi untuk Keselamatan dan Kenyamanan
Khoiri menekankan bahwa keselamatan dan kenyamanan penumpang memerlukan pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan. Ia memperingatkan bahwa tekanan biaya yang terus berlangsung dapat mengganggu kemampuan perusahaan untuk menjaga standar keselamatan operasional.
Pihak industri juga khawatir apabila tekanan biaya dibiarkan berlarut, maka pemeliharaan preventif akan dikurangi sehingga potensi gangguan operasional dan risiko keselamatan meningkat. Menurut Khoiri, investasi pada keselamatan bukan sekadar beban biaya tetapi juga investasi jangka panjang untuk keberlanjutan layanan penyeberangan.
Potensi Respons Kebijakan
Sektor pelayaran penyeberangan kini menunggu sinyal dari regulator dan pemangku kepentingan terkait kemungkinan penyesuaian tarif atau subsidi sementara. Para pengusaha berharap adanya kebijakan yang mempertimbangkan lonjakan harga komponen impor dan biaya bahan bakar.
Khoiri menyarankan dialog antara asosiasi pengusaha, operator penyebrangan, dan pemerintah daerah maupun pusat untuk mencari solusi yang menjaga keberlangsungan layanan tanpa membebani masyarakat secara drastis. Ia juga mengajak pemangku kepentingan meninjau mekanisme penetapan tarif agar lebih responsif terhadap fluktuasi biaya.
Prospek Ke Depan
Industri angkutan sungai, danau, serta penyeberangan menghadapi masa sulit apabila tekanan nilai tukar dan harga minyak bertahan dalam jangka menengah. Penguatan koordinasi antarpemangku kepentingan dinilai penting untuk merumuskan langkah-langkah mitigasi yang efektif.
Sementara itu, perusahaan pelayaran diminta mengoptimalkan efisiensi internal dan menerapkan manajemen risiko yang lebih ketat untuk menjaga keberlanjutan operasi di tengah dinamika harga global. Jika tidak ada langkah terintegrasi, dampak finansial dapat berlanjut pada penurunan kualitas layanan dan potensi gangguan pada konektivitas antarwilayah.





