Ekonomi

Pertumbuhan Tinggi, Rakyat Justru Semakin Miskin

Sulawesi, Maret.id — Ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terlihat mengesankan bagi pemerintah sesungguhnya berpotensi “menyengsarakan” rakyat jika disertai penurunan tajam dalam sektor manufaktur. Menurut Ferry, penurunan pangsa sektor pengolahan dari sekitar 30 persen menjadi 18 persen menandai perubahan struktural yang berbahaya dan dapat menimbulkan what he disebut sebagai “immiserizing growth” — pertumbuhan tinggi yang justru mengurangi kesejahteraan masyarakat. Pernyataan itu disampaikan pada Senin, 11 Mei 2026.

Penurunan sektor manufaktur dan konsekuensi ekonomi

Ferry menekankan bahwa manufaktur adalah sektor yang menciptakan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja. “Dengan sektor manufacturing yang terus trending down dari 30 persen ke 18 persen, itu sangat dahsyat,” ujarnya. Menurutnya, jika sektor pengolahan terus menyusut, keuntungan pertumbuhan nasional tidak didistribusikan secara merata dan lapangan kerja berkurang, sehingga manfaat pertumbuhan dinikmati oleh kelompok yang terbatas.

Ekonom itu juga menyoroti fenomena deindustrialisasi prematur yang dapat menghambat penciptaan lapangan kerja, memperlemah basis industri dalam negeri, dan meningkatkan kerentanan ekonomi terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Contoh dampak lokal dan penurunan kesejahteraan

Ferry mengambil contoh dampak industri ekstraktif di Sulawesi, khususnya dari aktivitas pertambangan nikel, yang menurutnya pernah mendorong angka pertumbuhan daerah hingga 28–40 persen tetapi tetap menyebabkan penderitaan bagi sebagian warga. “Pertumbuhan daerah itu 28 persen, 30 persen, (bahkan) 40 persen tuh tapi rakyatnya menderita. Karena pengotoran, sampah industri. Nelayan yang nggak bisa melaut, petani nggak bisa nyawah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa salah satu indikator penurunan kesejahteraan adalah menyusutnya jumlah kelas menengah. Ferry menyebutkan data yang menunjukkan jumlah kelas menengah turun dari 57 juta menjadi 46 juta, sebagai tanda bahwa banyak masyarakat yang mengalami penurunan pendapatan seiring perubahan struktur ekonomi.

Penjelasan tersebut mengingatkan pada teori ekonom yang memperingatkan bahwa pertumbuhan yang bergantung pada komoditas dengan harga ekspor yang rentan bisa berujung pada penurunan kesejahteraan secara keseluruhan jika tidak diimbangi penguatan sektor manufaktur dan kebijakan yang melindungi lingkungan serta mata pencaharian lokal.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button