Harga Minyak Meroket Usai Netanyahu Tegaskan Konflik Belum Usai

Washington, Maret.id — Presiden Amerika Serikat menolak proposal balasan Iran yang diajukan untuk mengakhiri konflik dengan AS dan Israel, menyebut respons Iran “sama sekali tidak dapat diterima” dan menegaskan negosiasi antara pihak-pihak terkait masih mengalami kebuntuan.
Ketegangan Politik dan Pernyataan Pemimpin
Perkembangan ini diperburuk oleh pernyataan Perdana Menteri Israel yang menyatakan masih terdapat sejumlah target terkait program nuklir Iran yang belum terselesaikan, termasuk uranium yang diperkaya, fasilitas pengayaan, kelompok proksi yang didukung Iran, dan rudal balistik. “Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ujarnya, seraya menegaskan pendekatan tegas terhadap material nuklir Iran dengan pernyataan, “Kalian masuk, dan kalian mengambilnya keluar.”
Kedua pernyataan keras dari kepemimpinan AS dan Israel meningkatkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Dampak pada Harga Minyak dan Risiko Pasokan
Kekhawatiran geopolitik itu memicu lonjakan harga minyak: minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik sekitar 3,08 persen ke level 95,42 Dolar AS per barel, sementara minyak Brent naik sekitar 3,16 persen menjadi 104,49 Dolar AS per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan yang merupakan jalur transit energi penting.
Analis pasar menilai risiko kenaikan harga masih signifikan apabila Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan. Iran dipandang memiliki pengaruh besar terhadap kemungkinan pembukaan penuh kembali jalur energi di Selat Hormuz; pembukaan penuh diperkirakan baru mungkin terjadi sekitar akhir Mei, namun ada juga risiko penundaan atau pembukaan sebagian yang dapat memperpanjang gangguan pasokan minyak global.
Meski demikian, pasar saat ini relatif tertopang oleh tingginya cadangan minyak global, pelepasan cadangan strategis, lemahnya permintaan dari beberapa negara berkembang, serta indikasi awal de-eskalasi di kawasan. Para analis memperingatkan bahwa apabila konflik meningkat dan gangguan terhadap jalur distribusi energi meluas, tekanan naik pada harga minyak dunia berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.





