Ancaman Trump terhadap Iran mendorong harga minyak melejit 2 persen

Jakarta, Maret.id — Harga minyak mentah Brent ditutup naik 1,65 Dolar AS atau 1,8 persen menjadi 93,10 Dolar AS per barel pada penutupan perdagangan Rabu, 10 Juni, waktu setempat.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,83 Dolar AS atau 2 persen menjadi 90,03 Dolar AS per barel pada akhir sesi yang sama.
Pergerakan Harga dan Volatilitas Intraday
Pada perdagangan sore harga sempat melonjak lebih dari level penutupan, dengan kedua kontrak naik sekitar 3 Dolar AS per barel dalam reaksi awal pasar.
Lonjakan ini kemudian mereda menjelang penutupan seiring pernyataan yang memperjelas kondisi pasokan dan operasi maritim di kawasan yang menjadi sorotan.
Pernyataan Donald Trump dan Reaksi Pasar
Mantan Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa Iran bisa menghadapi serangan lanjutan menyusul bentrokan militer terbaru antara AS dan Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Trump juga menyatakan bahwa militer AS secara diam-diam mengawal kapal-kapal pengangkut minyak yang melewati Selat Hormuz, yang menurutnya membantu menjaga aliran pasokan dan mencegah lonjakan harga lebih tinggi.
Pernyataan tersebut sempat menambah tekanan geopolitik di pasar minyak karena ancaman eskalasi militer sering kali memperketat ekspektasi pasokan.
Namun, para pelaku pasar merespons klaim pengawalan kapal itu dengan berhati-hati sehingga sebagian keuntungan harga terpangkas pada akhir sesi.
Data Persediaan AS dan Implikasinya
Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS turun 7,2 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni, jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis yang memperkirakan penurunan sekitar 4 juta barel.
Penurunan stok yang lebih tajam dari ekspektasi ini menandakan ketatnya pasokan domestik AS dan menjadi salah satu pendorong penguatan harga minyak dalam perdagangan hari itu.
Kombinasi antara data fundamental yang ketat dan ketegangan geopolitik menciptakan tekanan ke atas pada risiko premium pasar terhadap minyak mentah.
Para analis memperingatkan bahwa jika penurunan persediaan berlanjut, pasar bisa mengalami volatilitas lebih tinggi di tengah sensitivitas terhadap setiap berita terkait pasokan dan keamanan maritim.
Risiko di Selat Hormuz dan Dampak Global
Selat Hormuz tetap menjadi titik fokus karena merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Gangguan lalu lintas kapal di kawasan ini berpotensi memperketat pasokan global dan mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi apabila insiden militer atau serangan terhadap kapal berlanjut.
Investor dan pelaku pasar kini terus memantau perkembangan diplomasi serta pergerakan militer di kawasan untuk menilai potensi gangguan jangka pendek.
Sementara itu, konsumen dan sektor industri di berbagai negara juga bersiap menghadapi kemungkinan tekanan harga bahan bakar jika ketegangan tidak mereda.
Para pelaku pasar energi menyatakan akan mengawasi kombinasi faktor geopolitik, laporan persediaan mingguan, dan kebijakan produsen besar untuk memetakan arah harga dalam pekan mendatang.
Kondisi saat ini menggambarkan sensitivitas pasar minyak terhadap berita dan data yang dapat mengubah persepsi pasokan global dalam waktu singkat.





