Ekonomi

Pelindo gandeng masyarakat lokal galakkan restorasi terumbu karang berkelanjutan

Jakarta, Maret.id — Pelindo bekerja sama dengan CECT Sustainability Trisakti dan Yayasan Peduli Indonesia meluncurkan program rehabilitasi terumbu karang periode 2024-2026 yang bertujuan memulihkan ekosistem laut dan memperkuat keterlibatan masyarakat pesisir di sekitar Pulau Hanita.

Skema dan tahapan program

Program rehabilitasi dirancang dalam dua tahap utama yang berlangsung berturut-turut pada 2024-2025 dan 2025-2026 untuk memastikan pemulihan ekosistem bawah laut secara berkelanjutan.
Tahap pertama menggunakan 25 unit substrat dengan transplantasi 3.250 fragmen karang pada area seluas 4.500 meter persegi, sementara tahap kedua menambahkan 25 unit substrat berikut jumlah fragmen dan luas yang sama.
Secara kumulatif, program ini mencakup 50 unit substrat, 6.500 fragmen karang, serta area rehabilitasi total seluas 9.000 meter persegi yang difokuskan untuk mempercepat pemulihan habitat bawah laut.
Selain penanaman, kegiatan meliputi pemantauan berkala, pemeliharaan substrat, dan evaluasi teknis untuk menjaga kelangsungan hidup fragmen yang ditransplantasikan.

Hasil awal dan indikator keberhasilan

Hasil monitoring awal menunjukkan perkembangan positif pada kondisi ekosistem di lokasi rehabilitasi dengan terumbu karang yang ditransplantasikan tumbuh dan beradaptasi dengan baik.
Tingkat keberhasilan hidup (survival rate) terumbu karang tercatat mencapai 98,69 persen, angka yang menggambarkan efektivitas metode transplantasi dan perawatan yang diterapkan tim lapangan.
Pemulihan terumbu karang juga berkontribusi terhadap kembalinya beragam biota laut, termasuk ikan-ikan kecil dan organisme laut lainnya, yang menunjang rantai makanan dan kesehatan ekosistem setempat.
Selain aspek keanekaragaman hayati, rehabilitasi ini diperkirakan mampu meningkatkan serapan karbon hingga sekitar ±2.250 kg CO2 per tahun sebagai manfaat ekologis tambahan.

Partisipasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir

Keterlibatan masyarakat menjadi pilar penting dalam pelaksanaan program dengan melibatkan warga Desa Seraya Marannu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.
Sepuluh warga setempat — terdiri dari lima nelayan lokal dan lima perempuan — dilibatkan langsung dalam kegiatan transplantasi, pemeliharaan, serta monitoring terumbu karang.
Pelindo menyatakan bahwa pendekatan partisipatif ditujukan agar rehabilitasi tidak hanya berhenti pada proses penanaman, tetapi juga membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya laut.
Pelibatan warga lokal juga diharapkan memperkuat keberlanjutan program melalui transfer pengetahuan teknis dan praktik konservasi yang dapat dilanjutkan oleh komunitas setelah periode dukungan berakhir.

Dampak sosial-ekonomi dan prospek jangka panjang

Pemulihan terumbu karang memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan ekonomi masyarakat pesisir karena terumbu yang sehat mendukung produktivitas perikanan lokal dan pariwisata alam.
Selain itu, rehabilitasi menambah nilai proteksi pesisir terhadap abrasi dan cuaca ekstrem, sehingga memberikan manfaat ganda berupa konservasi lingkungan dan perlindungan aset masyarakat.
Pihak penyelenggara menekankan pentingnya sinergi antar-pemangku kepentingan—pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan sektor swasta—untuk memperluas skala program ke wilayah pesisir lain yang membutuhkan.
Ke depan, program ini diharapkan menjadi model replikasi yang menggabungkan restorasi ekosistem dengan penguatan kapasitas komunitas lokal sebagai upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Hendri Ginting, Direktur Hubungan Kelembagaan Pelindo, menegaskan bahwa laut bukan sekadar ruang konektivitas, melainkan ekosistem yang mesti dijaga keberlanjutannya.
“Kami mendorong pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan ekosistem, tetapi juga pada peningkatan kesadaran dan kapasitas masyarakat pesisir dalam menjaga laut sebagai sumber kehidupan,” ujar Hendri.
Monitoring lanjutan dan evaluasi teknis akan terus dilakukan untuk memastikan target ekologis dan sosial tercapai serta menentukan langkah perbaikan jika diperlukan.
Program yang berlangsung hingga 2026 ini diharapkan memberi dampak positif jangka panjang bagi kelestarian laut dan kesejahteraan komunitas pesisir di Pulau Hanita.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button