Rupiah Menguat, IHSG Tembus 6.000 dan Dongkrak Sentimen Investor

Jakarta, Maret.id — Nilai tukar Rupiah melanjutkan penguatan pada akhir pekan ini dan berhasil menembus zona yang lebih kuat terhadap Dolar AS. Penguatan tercatat sebesar 128 poin atau setara dengan 0,71 persen di penutupan perdagangan.
Penguatan Rupiah dan Kebijakan BI
Bank Indonesia menyatakan bahwa penguatan Rupiah merupakan respons positif pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Bank sentral menaikkan suku bunga acuan BI-Rate menjadi 5,50 persen sebagai langkah untuk menahan tekanan eksternal dan menstabilkan nilai tukar.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan investor merespons baik langkah tersebut. Menurut Ramdan, kombinasi kenaikan BI-Rate dan penguatan imbal hasil instrumen domestik memicu masuknya modal asing.
Aliran Modal Asing ke Instrumen Domestik
Ramdan menuturkan aliran modal asing terlihat jelas pada beberapa instrumen keuangan domestik dalam beberapa hari terakhir. Dana asing tercatat mengalir deras ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan kembali ke Surat Berharga Negara (SBN), khususnya pada tenor pendek dan menengah.
Masuknya dana asing itu, lanjut Ramdan, merupakan faktor penting yang memberikan tekanan balik terhadap depresiasi Rupiah. “Pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, serta penguatan imbal hasil SRBI dan SBN, investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut,” ujar Ramdan.
Dinamika di Pasar Saham
Sentimen positif yang sama juga meluas ke pasar modal domestik, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan. IHSG ditutup melonjak 121,6 poin atau naik 2,07 persen ke level 6.007 pada penutupan perdagangan.
Pergerakan indeks sepanjang hari menunjukkan dominasi penguatan dengan titik tertinggi mencapai 6.074 dan terendah di 5.952. Warna hijau mendominasi pasar saham dengan 618 saham menguat, 108 saham melemah, dan 93 saham stagnan.
Nilai transaksi pasar modal pada sesi tersebut juga menunjukkan aktivitas tinggi dan likuiditas yang kuat. Total nilai transaksi tembus Rp21 triliun dengan volume perdagangan mencapai sekitar 37 miliar saham serta frekuensi transaksi sekitar 2,4 juta kali.
Implikasi Kebijakan dan Prospek
Penguatan Rupiah dan aliran modal asing ke instrumen domestik mencerminkan kepercayaan sebagian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter saat ini. Namun, Bank Indonesia tetap menegaskan akan terus memantau perkembangan eksternal dan domestik untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Para analis menilai konsistensi dalam sinyal kebijakan dan pengelolaan fiskal yang prudent menjadi kunci untuk mempertahankan momentum positif. Jika aliran modal berlanjut dan kondisi eksternal lebih kondusif, tekanan pada nilai tukar kemungkinan akan mereda dan menopang pemulihan pasar ke depan.
Penutupan perdagangan akhir pekan ini menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan moneter yang akomodatif namun lebih berhati-hati serta perbaikan sentimen pasar mampu mendorong stabilitas di pasar keuangan domestik. Pihak berwenang dan pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati data inflasi, neraca perdagangan, serta arus modal untuk langkah kebijakan selanjutnya.





