Indonesia Gandeng Model Korea untuk Menyulap Industri Film dan Musik

Jakarta, Maret.id — Pendiri Nusantara Institute, Danny Gaida Tera Elgar, mendesak pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap pengembangan ekosistem hiburan nasional.
Seruan untuk Aksi Nyata
Ia menilai langkah konkrit diperlukan agar karya seniman Indonesia mampu menembus pasar internasional. Kekayaan seni dan budaya lokal menurutnya adalah aset strategis yang belum dikelola secara optimal.
Danny menekankan bahwa perpaduan instrumen tradisional dengan aransemen modern memiliki daya tarik kuat bagi audiens global. Menurutnya, stagnasi dalam strategi promosi dan dukungan infrastruktur membuat potensi tersebut tersia-siakan.
Hiburan sebagai Instrumen Diplomasi
Baginya, sektor hiburan harus dipandang sebagai instrumen diplomasi soft power yang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah dunia. Penguatan budaya populer berpotensi mendorong profil ekonomi dan posisi tawar negara.
Danny mengingatkan bahwa momentum perfilman dan musik nasional yang mulai mendapat perhatian internasional harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia menyarankan agar musik lokal dimaksimalkan sebagai bagian dari strategi promosi film dan produk budaya lainnya.
Belajar dari Pengalaman Internasional
Ia menyoroti keberhasilan Korea Selatan yang berhasil memadukan kualitas kreatif dengan ekosistem industri yang rapi dan terintegrasi. Kesuksesan K-Pop dan serial drama menurut Danny bukan hanya soal mutu, melainkan juga manajemen industri yang matang.
Di Korea Selatan, sinergi antara rumah produksi, agensi musik, dan sektor terkait berjalan terkoordinasi sehingga mendukung penetrasi pasar global. Pola kolaborasi lintas sektor seperti itu dianggap penting untuk diadopsi di dalam negeri.
Danny mengingatkan pentingnya membangun jejaring kerja antara sineas, musisi, dan pelaku industri kreatif agar promosi bisa menjadi satu kesatuan. Ia juga menyarankan pemanfaatan festival internasional sebagai pintu masuk yang strategis untuk memperkenalkan karya anak bangsa.
Hambatan yang Masih Mengemuka
Meski memiliki potensi besar, ia tidak menampik sejumlah hambatan yang masih menghalangi para pekerja seni. Tantangan utama yang disebut adalah ketiadaan sistem pendukung yang berkelanjutan dari proses kreatif hingga distribusi.
Birokrasi yang berbelit disebutnya menghambat laju kreativitas dan usaha komersialisasi karya seni. Nusantara Institute mendesak agar regulasi disederhanakan sehingga pelaku kreatif lebih mudah berinovasi dan mengekspor produk budaya.
Danny juga menyoroti masalah perlindungan Hak Kekayaan Intelektual sebagai isu yang mendesak untuk diatasi. Menurutnya, penegakan hukum terhadap pelanggaran hak cipta merupakan prasyarat kesejahteraan bagi seniman.
Ia menekankan bahwa segala bentuk pembajakan lagu dan film di dunia maya harus ditindak tegas tanpa pandang bulu. Selain itu, akses permodalan dari sektor perbankan perlu dibuat lebih mudah dan inklusif bagi pekerja seni dan rumah produksi kecil.
Danny menilai banyak ide kreatif kandas di tengah jalan karena minimnya dukungan pembiayaan dan investasi. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya sinergi antara investor, perbankan, dan kebijakan negara untuk merealisasikan proyek kreatif.
Rekomendasi Kebijakan dan Langkah Strategis
Ia merekomendasikan pembentukan program pendanaan khusus dan insentif fiskal untuk industri kreatif yang berorientasi ekspor. Program inkubasi budaya juga disarankan untuk memperkuat kapabilitas pelaku seni dalam aspek produksi, pemasaran, dan legalitas.
Danny menyerukan pembentukan lembaga koordinasi lintas kementerian yang fokus pada pengembangan ekosistem hiburan nasional. Lembaga semacam itu diharapkan mampu menyelaraskan kebijakan, memotong rintangan administratif, dan mendorong kolaborasi industri.
Ia juga mengusulkan penguatan kapasitas perlindungan HAKI melalui regulasi yang lebih tegas serta mekanisme penegakan hukum yang efektif. Pembaruan sistem lisensi dan pengawasan konten digital disebutnya penting untuk mengurangi praktik pembajakan.
Danny meminta agar musik dan film dimasukkan dalam paket promosi ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan diplomasi budaya negara. Langkah ini dinilai bisa meningkatkan visibilitas Indonesia serta membuka peluang kerja sama internasional.
Penutup
Ia menegaskan bahwa transformasi ekosistem hiburan bukan tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, pelaku industri, dan investor. Jika diimplementasikan secara konsisten, menurut Danny, potensi budaya populer Indonesia untuk bersaing di panggung global dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
Danny menutup pernyataannya dengan seruan agar semua pihak mengambil peran aktif mendorong perubahan kebijakan dan praktik yang mendukung. Ia berharap Indonesia tidak lagi puas sebagai “juara kandang” dan segera tampil sebagai pemain kuat di pasar budaya dunia.





