Ekonomi

Ekonom Tegaskan Narasi Sell Indonesia Berpotensi Ganggu Arus Investasi

Jakarta, Maret.id — Sejumlah ekonom menilai gejolak yang menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham belakangan ini berakar pada menurunnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah.

Sumber Kekhawatiran: Fiskal, Bukan Semata Moneter

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyatakan bahwa sumber utama kecemasan investor saat ini lebih bersifat fiskal daripada moneter.
Menurut Bhima, langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan hanya akan memberikan efek terbatas jika tidak diikuti pembenahan pengelolaan anggaran negara.

Dampak Kebijakan terhadap Nilai Tukar dan Pasar Modal

Kekhawatiran pasar tercermin dari pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di angka 18.168 per dolar AS pada 8 Juni lalu.
Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan juga mengalami tekanan setelah para pelaku pasar mempertanyakan transparansi, konsistensi kebijakan, dan prospek fiskal Indonesia.

Isu Sosok Pemimpin Fiskal dan Kepercayaan Investor

Di tengah tekanan pasar, muncul kabar tentang kemungkinan perombakan jabatan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menurut pengamat dipicu oleh kebutuhan pasar akan figur yang lebih menenangkan.
Bhima menilai gaya komunikasi Purbaya yang sering menantang kritik belum mampu meyakinkan investor, sehingga pasar mencari jaminan kejelasan kebijakan yang lebih kuat.

Permasalahan Kepercayaan Menurut Pengamat Lain

Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal menegaskan persoalan paling mendasar saat ini adalah kepercayaan.
Faisal mengatakan pelaku usaha dan investor perlu diyakinkan bahwa kebijakan pemerintah bergerak ke arah yang jelas dan didukung tata kelola yang efektif.

Ketidakpastian Kebijakan dan Persepsi Risiko

Selain persoalan fiskal, pengamat menyoroti sejumlah kebijakan yang dinilai menimbulkan ketidakpastian, termasuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengelolaan aset negara melalui perusahaan seperti Danantara.
Kebijakan yang diumumkan tanpa pengujian pasar yang memadai dianggap memperkuat persepsi risiko di mata investor dan memperburuk tekanan pasar.

Rekomendasi untuk Meredam Tekanan Pasar

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai cara paling efektif meredam narasi “Sell Indonesia” adalah dengan menunjukkan perbaikan kinerja ekonomi dan koreksi fiskal yang kredibel.
Eko menyarankan pengurangan kebijakan yang berpotensi menimbulkan polemik baru dan memastikan setiap gagasan besar diuji terlebih dahulu sebelum diumumkan ke publik.

Para ekonom sepakat bahwa kombinasi kebijakan moneter yang tepat dan langkah fiskal yang meyakinkan diperlukan untuk memulihkan kepercayaan investor.
Pasar menunggu sinyal konkret dari pemerintah bahwa langkah-langkah korektif akan diambil untuk memperbaiki transparansi anggaran, efektivitas pengeluaran, dan stabilitas ekonomi jangka menengah.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button