Rupiah dan IHSG Melejit setelah Danantara Klaim Balikkan Persepsi Investor

Jakarta, Maret.id — Chief Executive Officer Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan sentimen pasar global terhadap aset Indonesia mulai berbalik positif setelah serangkaian kebijakan pemerintah dan rangkaian roadshow yang dilakukan perusahaan ke beberapa pusat keuangan dunia. Pernyataan itu disampaikan Rosan dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Selasa, 16 Juni 2026.
Perubahan Sentimen dan Aksi Korporasi
Rosan menyebut bahwa penguatan pasar modal dan nilai tukar rupiah beberapa hari terakhir menunjukkan perubahan sentimen yang relatif cepat. Menurutnya, percepatan tersebut tidak terjadi secara spontan tanpa adanya langkah konkret dari pemangku kebijakan dan pelaku pasar.
Rosan menegaskan bahwa aksi korporasi Danantara juga berperan dalam mengembalikan kepercayaan investor. Ia menilai kombinasi kebijakan publik dan komunikasi proaktif menjadi kunci membalikkan persepsi negatif yang sempat mengemuka.
Roadshow ke Pusat Keuangan Dunia
Danantara baru saja menyelesaikan roadshow ke Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York untuk bertemu investor global. Dalam kegiatan itu, Rosan mengatakan pertemuan berlangsung dengan sekitar 122 investor, termasuk pihak-pihak yang sudah aktif berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Menurut Rosan, forum-forum internasional tersebut menjadi ruang penting untuk menjelaskan arah kebijakan pemerintah dan strategi investasi Danantara. Tujuannya adalah meredam keraguan sebagian pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia dan kebijakan terkait.
Fokus pada Persepsi dan Fundamental
Rosan menilai tantangan utama yang dihadapi Indonesia belakangan lebih banyak bersifat perseptual ketimbang fundamental ekonomi. Ia meyakini bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kuat untuk jangka menengah dan panjang.
Ia menambahkan bahwa momentum persepsi negatif bisa dibalik lewat sinyal kebijakan yang jelas dan langkah korporasi yang meyakinkan. Menurutnya, ketika investor memahami respons kebijakan yang tepat, ketidakpastian akan mereda dan arus modal kembali mengalir.
Valuasi Menjadi Daya Tarik
Koreksi pasar saham beberapa bulan terakhir justru membuat valuasi sejumlah emiten Indonesia menjadi lebih menarik di mata investor asing. Rosan mengatakan banyak saham kini diperdagangkan pada harga yang relatif murah jika dibandingkan dengan kinerja fundamental perusahaan.
Ia menyinggung kondisi perbankan yang solid, dividen yang kompetitif, serta rasio harga terhadap nilai buku (price to book) yang berada di bawah level wajar pasar. Faktor-faktor tersebut, menurut Rosan, mendorong investor global untuk melihat pasar Indonesia sebagai peluang jangka panjang.
Rosan menyimpulkan bahwa dengan kondisi valuasi dan fundamental yang mendukung, banyak investor mulai mengambil posisi beli. “Secara otomatis mereka melihat it’s time to buy,” ujarnya.
Reaksi Pasar Terkini
Data pasar menunjukkan rupiah menguat ke level Rp17.704 per Dolar AS pada perdagangan pagi, menguat 5 poin atau 0,03 persen. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 247 poin atau 4,12 persen ke level 6.254 pada perdagangan terakhir hari Senin, 15 Juni 2026.
Petenis pasar mencatat bahwa pergerakan positif ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan pemulihan permintaan global terhadap aset pasar berkembang. Namun, pelaku pasar tetap mengingatkan perlunya kehati-hatian karena volatilitas global masih berpotensi memengaruhi aliran modal.
Implikasi Kebijakan dan Langkah Ke Depan
Rosan dan timnya menegaskan akan melanjutkan komunikasi intensif dengan investor asing untuk menjaga momentum yang telah tercipta. Di sisi kebijakan, sinergi antara pemerintah pusat dan otoritas terkait dinilai penting untuk memastikan stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan.
Para analis menyoroti bahwa konsistensi kebijakan fiskal dan moneter, serta upaya reformasi struktural, akan menjadi faktor penentu apakah sentimen positif ini berlanjut menjadi aliran investasi yang stabil. Untuk investor jangka panjang, perbaikan valuasi dan prospek fundamental menjadi alasan utama tetap mempertimbangkan pasar Indonesia.
Penutupan konferensi pers menegaskan pesan utama bahwa pemulihan sentimen bukan semata hasil kebetulan, melainkan produk dari rangkaian tindakan yang terkoordinasi antara sektor publik dan swasta. Para pelaku pasar kini memantau respons berkelanjutan dari kebijakan dan data ekonomi untuk mengukur ketahanan momentum yang sedang berlangsung.





