Indonesia Gandeng Mitra Strategis untuk Tembus Penentuan Harga Komoditas

Jakarta, Maret.id — Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai posisi Indonesia sebagai salah satu produsen komoditas terbesar di dunia menjadi modal penting bagi perekonomian nasional. Ia menyampaikan bahwa kekayaan sumber daya seperti batu bara, timah, nikel, dan crude palm oil (CPO) menjadi andalan ekspor yang menopang penerimaan devisa negara.
Komoditas sebagai tulang punggung ekspor
Ibrahim mengatakan ekspor Indonesia relatif kuat berkat komoditas unggulan tersebut yang masih banyak dibutuhkan pasar global. Selain itu, potensi pengembangan gas alam disebutnya sebagai peluang baru yang tengah digarap pemerintah untuk memperkuat sektor energi dan meningkatkan nilai ekspor.
Ketergantungan pada bursa internasional
Meski menjadi produsen besar, Ibrahim menyoroti keterbatasan pengaruh Indonesia dalam menentukan harga komoditas di pasar internasional. Ia mengingatkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa meskipun negara merupakan salah satu penghasil komoditas terbesar, kewenangan menentukan harga belum berada di tangan Indonesia.
Peran sebagai pemasok dalam rantai nilai global
Menurut Ibrahim, Indonesia selama ini lebih berfungsi sebagai pemasok bahan baku atau lokasi pengambilan barang bagi negara-negara yang mengendalikan bursa komoditas internasional. Akibatnya, harga jual yang diterima petani atau produsen domestik pada akhirnya mengikuti patokan yang ditetapkan di luar negeri.
Ibrahim mencontohkan CPO yang perdagangan harganya masih acap kali mengacu pada bursa di Malaysia sebagai salah satu referensi utama regional. Ia juga menunjuk timah dan nikel yang banyak dipengaruhi oleh transaksi di London Metal Exchange (LME) yang berbasis di Inggris.
Fenomena serupa, kata Ibrahim, terjadi pada batu bara yang mengacu pada mekanisme pasar global di berbagai bursa komoditas dunia. Oleh karena itu, meskipun Indonesia adalah eksportir besar, komoditas-komoditas itu belum dapat menggunakan harga acuan yang ditetapkan sendiri.
Dominasi dolar AS dalam transaksi komoditas
Ibrahim menegaskan bahwa transaksi perdagangan komoditas global sampai saat ini masih didominasi penggunaan dolar Amerika Serikat. Hal ini membuat upaya untuk menjadikan rupiah sebagai mata uang transaksi utama menghadapi kendala besar karena praktik pasar dan likuiditas yang terbentuk di pasar internasional.
Ia menambahkan bahwa ketika produk komoditas Indonesia dilepas ke pasar global, harga yang digunakan pada umumnya adalah harga yang sudah dipatok oleh bursa-bursa internasional tersebut. Kondisi tersebut menurutnya membatasi kemampuan negara dan pelaku usaha domestik untuk menetapkan mekanisme harga yang sepenuhnya berpihak pada kepentingan nasional.
Ibrahim menyoroti perlunya strategi kebijakan lebih menyeluruh untuk meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam rantai nilai komoditas. Langkah-langkah yang ia sebut antara lain memperkuat hilirisasi, memperluas akses pada instrumen pasar keuangan domestik, dan membangun infrastruktur perdagangan yang mampu menopang pembentukan harga yang lebih adil.
Para pelaku industri dan pembuat kebijakan, menurut Ibrahim, harus memikirkan sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan industrial untuk mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga internasional. Upaya tersebut dipandang penting agar manfaat dari sumber daya alam dapat dinikmati lebih merata oleh pelaku usaha dan masyarakat dalam negeri.
Pernyataan Ibrahim ini menjadi pengingat bahwa kekayaan komoditas tidak otomatis diterjemahkan menjadi kendali harga atau kedaulatan ekonomi. Tantangan jangka panjangnya adalah memperkuat kapasitas domestik agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga menjadi pemain yang lebih menentukan di pasar global.





