Harga Emas Melonjak ke 4.723 Dolar AS di Tengah Ketegangan Diplomatik AS

New York, Maret.id — Harga emas kembali pulih seiring aksi beli pada level harga rendah oleh investor yang mulai menempatkan posisi menjelang rilis data inflasi penting Amerika Serikat, yakni Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI). Sentimen pasar dipengaruhi pula oleh ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve yang diperkirakan akan tetap tinggi lebih lama.
Pergerakan Harga dan Pengaruh Kebijakan Moneter
Harga emas berjangka Amerika Serikat cenderung stabil, menutup perdagangan pada posisi 4.728,70 Dolar AS per ons. Ketidakpastian mengenai durasi tingkat suku bunga tinggi dari The Fed membuat investor berhati-hati, namun aksi beli oportunistik pada harga rendah mendukung pemulihan harga logam mulia tersebut.
Faktor Geopolitik dan Proyeksi Pasar
Ketegangan diplomatik juga turut memberi tekanan pada pasar setelah Presiden Donald Trump menolak proposal perdamaian terhadap Iran, yang meningkatkan risiko gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Meskipun suku bunga tinggi umumnya menekan daya tarik emas, eskalasi geopolitik dan ancaman inflasi energi menjaga logam mulia sebagai aset aman. Analis ING bahkan memproyeksikan harga emas bisa menyentuh 5.000 Dolar AS per ons pada akhir tahun.
Selain emas, logam mulia lain mencatat kenaikan signifikan. Perak melonjak 6,6 persen ke posisi 85,65 Dolar AS per ons, sedangkan platinum naik sekitar 3 persen menjadi 2.116,72 Dolar AS per ons. Kenaikan ini terjadi meski pasar perhiasan di India mengalami tekanan akibat imbauan pemerintah setempat untuk membatasi pembelian emas.
Investor kini mencermati data inflasi mendatang dan perkembangan geopolitik sebagai penentu arah jangka pendek harga logam mulia, sambil memantau sinyal kebijakan moneter yang dapat mempengaruhi permintaan terhadap aset safe haven.





