Rupiah Melemah Dekati Rp18.000 per Dolar AS Usai Pengumuman MSCI: Penyebab dan Implikasi bagi Pasar Modal serta Arus Modal

Jakarta, Maret.id — Pelemahan Rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen pasar global dan sejumlah kelemahan di dalam negeri, menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi.
“Memang kita tahu bahwa MSCI masih akan mempertahankan pasar modal kita di emerging market,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang.
“Tetapi yang akan kita lihat ini adalah tentang masalah free float,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang.
“Kemudian transparansi data,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang.
Ia menjelaskan isu transparansi data dan ketersediaan saham publik masih menjadi perhatian investor asing dan menjadi penentu kepercayaan pasar modal.
“Ini yang menjadi satu permasalahan bagi investor asing. Sehingga ini yang kemungkinan besar akan dijadikan sebagai alasan bagi pasar tentang transparansi data yang harus benar-benar dilakukan reformasi oleh OJK dan Bursa Efek Indonesia,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang.
Ibrahim juga menyoroti melemahnya daya saing industri manufaktur nasional, termasuk rencana penghentian produksi oleh dua perusahaan otomotif Jepang yang relokasi ke Vietnam.
“Nah di Jawa Barat banyak sekali perusahaan-perusahaan padat karya yang menutup pabriknya dan ini berdampak terhadap pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan sehingga ini akan berpengaruh terhadap daya saing industri manufaktur nasional dan akan berdampak terhadap daya beli masyarakat,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang.
Dari sisi fiskal, ia menyatakan pasar mengkhawatirkan potensi pelebaran defisit anggaran yang mendekati ambang batas 3 persen terhadap PDB.
“Artinya Pak bahwa defisit anggaran itu kemungkinan akan mendekati 3 persen,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang.
Tekanan pada Rupiah semakin kuat menjelang akhir kuartal kedua karena kebutuhan Dolar AS meningkat seiring perusahaan menyiapkan dana dividen dan pemerintah menghadapi kewajiban utang jatuh tempo dalam jumlah besar.
“Sehingga ini membuktikan bahwa pemerintah saat ini sedang membutuhkan dana yang cukup besar,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang.
Ia turut menyinggung penarikan dana pemerintah dari bank-bank Himbara yang berlangsung secara bertahap dan berpotensi memengaruhi likuiditas perbankan.
Tingginya suku bunga turut memperlambat aktivitas investasi dan pelaksanaan proyek karena dunia usaha lebih berhati-hati dalam mengambil kredit baru.
“Nah ini membuat masyarakat, pengusaha kembali wait and see dalam melakukan pembangunan saat ini. Di sisi lain pun juga kita melihat bahwa kondisi daya beli masyarakat yang terus mengalami penurunan dampak dari kelas menengah berpindah menjadi kelas bawah, kelas bawah berpindah menjadi kelas yang paling bawah lagi ini mengindikasikan bahwa kondisi ya kondisi ini sangat berdampak sekali ya sangat terpukul terhadap daya beli masyarakat,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang.





