Mendesak Ubah Strategi Pariwisata ke Nilai Ekonomi

Jakarta, Maret.id — Meskipun sektor pariwisata nasional menunjukkan sinyal kebangkitan pascapandemi, realitas di lapangan mencatat penurunan nilai belanja wisatawan sehingga dampak ekonomi belum merata ke pelaku usaha lokal.
Pengurus Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Bidang Pariwisata dan Budaya, Rizanto Binol, mengungkapkan fenomena paradoks tersebut. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan, Kamis 25 Juni 2026.
Destinasi wisata tampak padat, namun perputaran uang dan margin keuntungan bagi pelaku usaha mikro dan kecil di tingkat bawah belum meningkat signifikan.
“Pengunjung ada, tetapi pengeluaran tidak. Pertumbuhan tanpa keseimbangan hanya akan menimbulkan tekanan di bagian Bawah,” ujar Rizanto Binol, Pengurus Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Bidang Pariwisata dan Budaya.
Rizanto menjelaskan pola konsumsi wisatawan bergeser menjadi lebih selektif seiring adaptasi terhadap kondisi ekonomi makro. Tren wisata kini didominasi aktivitas gratis, pemilihan destinasi murah, durasi perjalanan singkat, dan pengeluaran yang sangat terbatas.
Melihat tekanan serius terhadap margin pendapatan pelaku usaha lokal, HIPPI mendesak perubahan paradigma dari orientasi jumlah kunjungan ke fokus pada kualitas nilai ekonomi.
Menurut HIPPI, ukuran keberhasilan pariwisata tidak lagi cukup hanya bersandar pada angka kedatangan wisatawan mancanegara maupun domestik.
“Pariwisata Indonesia tidak boleh hanya ramai secara statistik, tetapi harus kuat secara ekosistem,” ujar Rizanto Binol, Pengurus Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Bidang Pariwisata dan Budaya.
Ukuran keberhasilan seharusnya melihat besaran manfaat yang tinggal di daerah, dirasakan oleh pelaku usaha lokal, serta kemampuan memperkuat budaya dan ekonomi masyarakat setempat.
HIPPI merekomendasikan kebijakan yang mendorong nilai tambah lokal, penguatan rantai pasok UMKM pariwisata, dan insentif yang memastikan distribusi manfaat lebih merata ke level akar rumput.
Jika tidak ada pergeseran strategi, risiko ketimpangan ekonomi lokal diperkirakan meningkat meski angka kunjungan pariwisata terus pulih.





