Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Dipacu Sentimen Minyak Global

Jakarta, Maret.id — Kontrak acuan crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives untuk pengiriman September terkerek 24 ringgit atau 0,53 persen ke level 4.592 ringgit per ton pada pembukaan pasar. Tren ini sejalan dengan penguatan minyak nabati lain di bursa Asia, di mana kontrak minyak kedelai teraktif di Bursa Dalian menguat 0,49 persen dan kontrak minyak sawitnya naik 0,77 persen. Kenaikan juga tercatat di Chicago Board of Trade dengan harga minyak kedelai yang tumbuh 0,31 persen. Sebagai komoditas yang saling bersaing ketat di pasar global, harga CPO cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati lainnya. Faktor eksternal yang menyokong kenaikan adalah memanasnya harga minyak mentah global akibat eskalasi ketegangan antara AS dan Iran menyusul aksi saling serang baru-baru ini. Konflik tersebut mengganggu jalur logistik energi di Selat Hormuz sehingga mendorong kenaikan harga minyak bumi dan membuat CPO lebih kompetitif sebagai bahan baku biodiesel. Saat ini pelaku pasar fokus pada rilis data ekspor CPO Malaysia periode Juni oleh perusahaan survei kargo yang dijadwalkan hari Selasa untuk menilai kekuatan permintaan global. Meski demikian, penguatan mata uang ringgit sebesar 0,61 persen terhadap Dolar AS berisiko menahan laju kenaikan harga CPO karena membuatnya lebih mahal bagi importir asing. “Ada potensi koreksi jangka pendek ke rentang 4.517-4.538 ringgit per ton sebelum CPO melanjutkan reli penguatannya,” kata Wang Tao, analis Reuters.





